Materi Teknik Penulisan Karya Ilmiah

Berikut adalah materi untuk matakuliah Teknik Penulisan Karya Ilmiah. Materi-materi didalamnya saya sarikan dari berbagai sumber.

Pengertian Karya Ilmiah

Leave a comment »

Materi Tugas Komunikasi Kelompok TA 2013/2014

Berikut adalah materi tugas kelompok pada matakuliah Komunikasi Kelompok Fisip Unila TA 2013/2014. Tugas dikumpulkan pada tanggal 29 Oktober 2013. Kelalaian mengakibatkan nilai tidak dapat diberikan.

Kelompok 1

Kelompok 2

Kelompok 3

Kelompok 4

Kelompok 5

Kelompok 6

Kelompok 7

Kelompok 8

Kelompok 9

Kelompok 10

Kelompok 11

Kelompok 12

kelompok 13

Kelompok 14

Kelompok 15

Kelompok 16

Selain materi tugas di atas, berikut adalah bahan ajar berupa slide presentasi dalam matakuliah ini:

Bahan Kuliah Komunikasi Kelompok

Leave a comment »

Materi Sistem Komunikasi Indonesia Fisip Unila TA. 2012/2013

Sistem Komunikasi Indonesia

Diatas adalah materi matakuliah Sistem Komunikasi Indonesia untuk jur. ilmu komunikasi fisip unila TA. 2012/2013.

Leave a comment »

Materi Matakuliah Perkembangan Teknologi Komunikasi

Materi ini untuk perkuliahan pada semester Ganjil 2012/2013 di Jur. Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Lampung.

Media dalam tinjauan pertekom

Web 2.0 dan social software

Pengantar pada Komunikasi-termediasi-komputer

Media ownership & media ideology

 

Leave a comment »

Sekilas tentang Literasi Media dan Informasi

Perkembangan industri digital yang sangat cepat itu menjadi tantangan berat bagi dunia pendidikan dan orangtua dalam menyiapkan anak didik untuk dapat menghadapi ‘banjir informasi’ yang dibawa oleh media digital melalui beraneka ragam bentuk dan format. Tanpa ada penyiapan yang sistematis dan sungguh-sungguh, maka bisa diperikirakan bahwa anak-anak dan remaja akan menjadi korban dari perkembangan teknologi media yang didominasi dengan hiburan yang cenderung tidak sehat dengan muatan bisnis yang kental.

Untuk media televisi misalnya, dampak negatif dari tayangan-tayangan yang tidak aman tentunya perlu diwaspadai. Dewasa ini, media televisi sangat memengaruhi anak-anak dengan program-programnya yang banyak menampilkan adegan kekerasan, hal-hal yang terkait dengan seks, mistis, dan penggambaran moral yang menyimpang. Tayangan televisi yang sangat liberal membuat tidak ada lagi jarak pemisah antara dunia orang dewasa dan anak-anak. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di negara-negara liberal, namun juga di negara-negara berbudaya timur, karena besarnya infiltrasi media televisi di berbagai penjuru dunia. Dengan kata lain, anak-anak zaman sekarang memiliki kebebasan untuk melihat apa yang seharusnya hanya ditonton oleh orang dewasa.

Di Amerika serikat, dampak media massa terutama televisi dan video game, semakin membuat para orangtua kuatir. Data yang ada menunjukkan bahwa para remaja Amerika Serikat dengan rata-rata usia 15 tahun, menyaksikan aksi pembunuhan brutal sebanyak 25 ribu kali dari televisi dan 200 ribu kali tindak kekerasan dari media massa lainnya. Antara tahun 1950 sampai 1979, terjadi peningkatan jumlah kejahatan berat yang dilakukan oleh anak-anak muda di bawah 15 tahun di AS, sebesar 110 kali lipat, yang berarti peningkatan sebesar 11 ribu persen.  (West & Turner, 2008)

Enam atau tujuh tahun yang lalu, internet masih merupakan barang baru tetapi sekarang mereka-mereka yang tidak tahu menggunakan internet akan di anggap tertinggal. Di masyarakat dapat disaksikan bahwa teknologi komunikasi terutama televisi, komputer dan internet telah mengambil alih beberapa fungsi sosial manusia (masyarakat). Setiap saat kita semua menyaksikan realitas baru di masyarakat. Dimana realitas itu tidak sekedar sebuah ruang yang merefleksikan kehidupan masyarakat nyata dan peta analog atau simulasi-simulasi dari suatu masyarakat tertentu yang hidup dalam media dan alam pikiran manusia, akan tetapi sebuah ruang dimana manusia bisa hidup di dalamnya. Media massa merupakan salah satu kekuatan yang sangat mempengaruhi umat manusia di abad 21. Media ada di sekeliling kita, media mendominasi kehidupan kita dan bahkan mempengaruhi emosi serta pertimbangan kita.

Antara media dan informasi bagai 2 sisi mata uang yang saling berdekatan dan mempunyai hubungan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Informasi akan mudah dan cepat tersampaikan dengan adanya campur tangan media. Mediapun akan sedikit kehilangan giginya bila tidak ada yang disuarakannya. Jadi bisa dikatakan, media hadir untuk mempermudah dan mempercepat lajunya informasi sampai ke sasaran, sebaliknya informasi ada untuk mengisi media. Untuk itu guna menuju transformasi masyarakat menuju masyarakat informasi dan masyarakat berbasis pengetahuan, tidak saja membutuhkan infrastruktur (hardware, software, aplikasi, dan konektivitas/akses) yang handal, dan regulasi (peraturan) yang mendukung, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) atau brainware dengan tingkat literasi (melek) media yang memadai dan kemampuan mengeksplorasi konten (literasi informasi) untuk menciptakan kemakmuran. Fenomena di atas akhirnya menimbulkan pelbagai paradigma baru dalam pendidikan. Pendidikan sebagai sarana belajar kian mendapatkan tantangan, ketika dihadapkan dengan zaman yang menurut para teorisi teknologi komunikasi (Marshall McLuhan dan Regis Debray)  dikenal sebagai “The Age of Media Society”(West & Turner, 2008).

Kemampuan literasi media dan informasi wajib dimiliki para pelajar, jika mereka tidak mau ketinggalan dan menjadi “asing” di masyarakat yang telah dikelilingi informasi ini. Dengan dimilikinya dua kemampuan tersebut pada diri remaja, akan memudahkan mereka untuk merealisasikan slogan ”lifelong education”. Selain itu juga, keterampilan untuk meliterasi media dan informasi adalah salah satu strategi utama yang dikumandangkan UNESCO untuk dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Yang semakin memperkuat lagi keharusan memiliki kedua keterampilan ini, karena kedua keterampilan literasi ini banyak diproyeksikan para ahli sebagai 21st century skills yang dapat dijadikan password untuk dapat melenggang dengan sukses dalam masyarakat informasi (ncrel.org).

Pendapat di atas senada dengan pernyataan Dan Blake (Potter, 2001) tentang alasan perlunya mengajarkan media literasi pada pelajar, yaitu : (1) kita hidup ditengah lingkungan bermedia, (2) literasi media menekankan pada pemikiran kritis,(3) menjadi literat terhadap media merupakan bagian dari pembelajaran terhadap warga negara, (4) dengan mempunyai literasi terhadap media membuat kita dapat berperan aktif dalam lingkungan yang dipenuhi dengan media, dan (5) pendidikan media membantu kita dalam memahami teknologi komunikasi. Upaya mencerdaskan penonton dalam berinteraksi dengan media dilakukan dengan memberinya skill media literacy (melek media). Media literacy adalah kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai format, baik cetak maupun noncetak. Hal ini sudah menjadi bagian pendidikan di berbagai belahan dunia.

Di California, AS, sebagai contoh, English Language Arts Standards (ELA) mengharuskan siswa mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan mengkritik teknik persuasif sebuah pesan media. Di Afrika Selatan, pendidikan media literacy digunakan untuk mempromosikan reformasi pendidikan. Sedangkan di negara-negara penutur bahasa inggris, seperti Inggris, Skotlandia, Kanada, dan Australia, pendidikan literasi media menjadi bagian dari pelajaran seni bahasa (Bazalgette, 1992). Di Australia, pendidikan media secara aktif ditempatkan di pendidikan publik sejak awal 1970an. Sedikit pendidik Australia yang memahami bahwa pendidikan media adalah sebuah bentuk cultural protection untuk membantu orang tua dan para guru mengilustrasikan perbedaan antara nilai dan norma Amerika dan Australia.

Salah satu organisasi media literacy yang terbilang sukses dalam mendidik anak-anak, pemuda, dan dewasa agar menjadi konsumen media yang kritis adalah New Mexico Media Literacy Project (NMMLP). Didirikan tahun 1993, NMMLP membantu ratusan ribu orang dari berbagai negara untuk meningkatkan media literacy skill. Misi NMMLP adalah menanamkan pemikiran kritis dan aktif dalam kultur media untuk membangun komunitas yang sehat dan adil. Satu hal yang patut dicatat, pendidikan media literacy di sekolah merupakan aspek-aspek pengajaran yang lebih berdimensi sosiologis dan etis. Tujuan pendidikan media literacy adalah untuk memproteksi anak didik dari persepsi-persepsi buruk media sekaligus mendidik anak untuk mampu mengapresiasi efek positif media. Maka pendidikan media literacy tidak sekadar mengajarkan siswa tentang segi teknis produksi tayangan media, melainkan juga berbagai konsekuensi yang timbul dari kekuatan media. Pendidikan media literacy mengajarkan pada anak tentang pemanfaatan media secara bijak serta penilaian kritis terhadap muatan media. Komunikasi.

Mengambil analogi teori peluru atau teori jarum hipodermik  (Severin & Tankard, 2005) yang memandang bahwa pesan (isi) media mempunyai peran yang sangat kuat dalam membentuk perilaku masyarakat; maka siswa sekolah pun perlu dididik untuk dapat mengembangkan dirinya sendiri menghadapi pengaruh media. Anak-anak perlu “disuntik” dengan cara tersendiri sehingga mereka kebal alias imun terhadap kemungkinan dampak buruk yang akan terjadi akibat tayangan media. Ditengah melimpahruahnya aneka citraan media yang tidak terbendung sekarang ini, tindakan inokulatif sangat diperlukan demi melindungi bahaya negatif media yang bisa mempengaruhi segi-segi kognitif, afektif, dan perilaku siswa. Pendidikan melek media ibarat suntikan imunisasi dimana siswa secara mandiri mampu menghasilkan antibodi yang siap menanggulangi berbagai potensi penyakit psikologis pada diri mereka akibat pengaruh media.

Berbeda dengan pelatihan literasi media dan informasi konvensional, pada pelatihan ini tim pelaksana menerapkan model komunikasi kelompok sebagai bagian dari pelatihan. Pemilihan model pelatihan ini dikarenakan cara kerja kelompok yang secara komunikatif lebih baik dalam hal rujukan (reference), pemberian saran (suggest), dan kinerja (performance). Sehingga diharapkan model ini dapat terbukti menjadi model alternatif dalam pengajaran literasi media dan informasi di sekolah.

 

Referensi

Bazalgette, C. (1992). New directions Media education worldwide. London, UK: British Film Inst.

Potter, J. W. (2001). Media Literacy. New York: Sage Publications.

Severin, W. J., & Tankard, J. W. (2005). Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, & Terapan di Dalam Media Massa (5 ed.). Jakarta: Kencana.

West, R., & Turner, L. H. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi (3 ed.). Jakarta: Salemba Humanika.

 

Leave a comment »

Materi Sistem Komunikasi Indonesia-1

Salam Damai,

Berikut adalah materi dari perkuliahan Sistem Komunikasi Indonesia di Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Lampung TA 2010/2011. Saya masukkan beberapa links karena saya sering mendapat masukan kalau unggah yang saya lakukan kadang-kadang tidak bisa dibuka, jadi anda bisa mencoba beberapa link dibawah ini, kalau masih error lagi mohon dikomentari. Trims dan semoga bermanfaat.

Sistem Komunikasi Indonesia

Sistem Komunikasi Indonesia

Sistem Komunikasi Indonesia

Leave a comment »

Trust, conformity, and virtual group performance

Salam Damai,

Beberapa minggu ini saya mendalami topic virtual group. Tidak hanya karena tuntutan pekerjaan selain itu yang menarik minat saya adalah perkembangan topic ini yang fenomenal dan sangat interdisiplin. Saya membaca mulai dari guru, pakar computer, ekonom, sosiolog, hingga ahli sejarah berbicara mengenai pengembangan kelompok virtual, yang tentunya menurut sudut pandang mereka masing-masing. Setelah meresapi maksud dari terbentuknya fasilitas dan proses dalam komunikasi kelompok virtual timbul pertanyaan saya mengenai apakah penelitian yang ada hingga saat ini sudah cukup membuktikan bahwa kelompok virtual memang terbukti lebih efisien dari kelompok konvensional, tentunya disini kita bicara juga mengenai batasan-batasan. Contohnya penelitian J.B. Walther, the godfather of CMC, tentang rules of virtual group. Menurut saya penelitian itu dasarnya memang sederhana. Dibutuhkan pembuktian aturan komunikasi apakah yang membatasi atau mengakomodasi pengembangan dari kelompok virtual. Aturan-aturan yang diuji bukan aturan-aturan yang fixed melainkan adalah pemikiran Walther dan mahasiswanya sendiri terhadap fenomena. Dalam akhir tulisannya dia sendiri mengakui bahwa aturan tersebut lebih mirip placebo daripada panacea. Jadi aturan ini sendiri adalah dinamis pada prakteknya.

Nah, kondisi dinamis itulah melandasi pertanyaan saya yang selanjutnya. Apakah mungkin dalam kondisi yang dinamis tersebut dapat dihasilkan performa yang lebih baik dari konvensional? Untuk menjawabnya barang tentu kita harus mengetahui faktor, atau lebih tepatnya variable apakah yang mempengaruhi performa kelompok virtual. Banyak faktor, adalah jawaban yang pasti, of course, unquestionable. Dari sekian banyak variable tersebut, mata saya tertuju pada dua topik, yang pertama masalah kepercayaan (trust), dan yang kedua yaitu konformitas (conformity). Diluar keduanya tentu saja kita bicara banyak hal lainnya seperti polarisasi, aturan, kepemimpinan hingga fasilitas baik sosial maupun teknikal. Tetapi kenapa saya memilih variabel kepercayaan dan konformitas adalah karena kedua variable tersebut sudah mempunyai akar penelitian yang kuat dalam komunikasi kelompok konvensional hingga saat ini dan keduanya adalah variable yang secara kualitatif merengkuh baik psikologis maupun sosiologis dari pengembangan kelompok virtual. Salah satu peneliti di dunia yang secara khusus meneliti mengenai peran kepercayaan dalam komunikasi kelompok virtual adalah Sirkka L. Jarvenpaa dari Univ. of Texas at Austin, US. Penelitiannya telah menginspirasi banyak peneliti termasuk saya bagaimana mengukur kepercayaan berdasarkan performa yang terlihat dalam komunikasi kelompok virtual. Bahkan Walther sekalipun menggunakan rujukan dari penelitian ini untuk merumuskan ‘aturan-aturannya’. Kepercayaan adalah sesuatu yang menjaga konsistensi dalam kelompok virtual, tidak hanya mengenai input tetapi juga mengenai output atau hasilan dari kelompok virtual tersebut.

Selanjutnya adalah konformitas, dalam komunikasi kelompok konformitas adalah faktor yang sama pentingnya selain polarisasi dalam mengukur performa kelompok.  Tanpa kebersetujuan masing-masing anggota terhadap keputusan kelompok tidak akan ada sesuatu yang dihasilkan dalam kelompok. Tetapi yang uniknya, bagaimana kita, manusia, menghasilkan konformitas, terutama dalam kelompok vitual, kadang-kadang hanya melalui hal-hal yang kecil misalnya gambar avatar yang digunakan atau nama pengguna (username). Kenapa begitu? Karena kita manusia, pada dasarnya ingin mengurangi ketidak pastian karena itu kita mencari kesamaan dengan lawan bicara kita dengan harapan jika ada kesamaan maka tidak ada beban dalam diri kita ketika berbicara dengan komunikan yang dimaksud. Kesamaan juga melahirkan kekuatan dan motivasi baik bagi anggota kelompok maupun kelompoknya sendiri terutama untuk kelompok virtual yang berbeda jarak dan kadang-kadang tidak pernah ketemu sama sekali di dunia nyata. Konformitas melahirkan kerja kelompok yang saling menjaga dan kepercayaan menjaga konsistensi tersebut. Karena itulah, saya menghasilkan praduga awal saya bahwa ada hubungan antara kepercayaan, konformitas dan kinerja kelompok virtual.

continue… (hopefully)

Comments (2) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.