Research in blood-type-based communication, does anyone interested?

Salam Damai,

 

Beberapa waktu yang lalu, disela-sela obrolan makan siang dengan beberapa kolega dari jurusan Ilmu Komunikasi Unila, saya mendapat informasi yang menarik. Dosen tersebut yang sedang menempuh pendidikan S3 di Unpad mengatakan kepada saya bahwa seorang professor ilmu komunikasi di Indonesia menantang para peneliti dan mahasiswa S3-nya untuk melakukan penelitian yang katanya terinsipirasi dari penemuan seorang ahli komunikasi di Jepang. Professor itu berpostulat bahwa dia setuju dengan pendapat yang mengatakan ada hubungan antara tipe darah seseorang (A, B, O atau AB) dengan temperamen seseorang dan pada akhirnya berpengaruh pula pada pola komunikasi seseorang. Dosen itu bilang kepada saya, bahwa saya mungkin tertarik mengingat dia tahu saya juga tertarik pada fungsi semantic dari komunikasi yang berhubungan juga dengan psikologi komunikasi dari seseorang. Waktu itu yang ada dibenak saya sewaktu mendengarnya adalah bahwa komunikasi ini ada hubungannya dengan ilmu syaraf atau neuro science. Thus, mungkin berhubungan dengan aspek bioteknologi.

 

Terus terang itu kali pertama saya mendengar adanya penelitian di bidang tersebut. Arah pikiran saya waktu itu mengatakan bahwa sangat sulit menentukan bahwa cara kita berbicara dan berkomunikasi dengan lingkungan ditentukan oleh tanda fisik kita. Hal yang sama masih saya sangsikan bahwa kita tahu sifat komunikatif seseorang dari sidik jarinya misalnya. Dalam psikologi social kita mengetahui bahwa sifat atau karakter seseorang dibangun oleh dua factor yaitu factor bawaan (inherit) dan factor lingkungan (environment). Sifat seseorang bisa dipengaruhi fisiknya tetapi bukan satu-satunya sebab mengapa seseorang lebih ekspresif dibandingkan orang yang lain. Seorang manusia belajar mengenai bahasa justru dari lingkungannya. Saya pernah ketemu orang keturunan Indonesia yang tinggal di Norway dan mengatakan bahwa dia lebih berbicara dengan bahasa  norse dibandingkan bahasa Indonesia. Fisik orang tersebut tidak ada bedanya dengan fisik orang Indonesia pada umumnya tetapi belum tentu dia bisa berbahasa dengan baik, contoh lainnya misalnya artis Cinta Laura atau artis-artis lainnya yang keturunan dan ke’bule-bule’an.

 

Menandakan bahwa seseorang lebih pemarah dibandingkan orang lainnya karena di KTP nya bertuliskan bergolongan darah A adalah kesalahan logika menurut saya. Tetapi karena penasaran saya meneruskan pencarian saya di dunia maya mengenai hubungan golongan darah dengan pola komunikasi seseorang. Rekan saya yang memberitahu saya tentang hal ini menyebutkan sebuah nama, Takeji Furukawa. Berawal dari nama tersebut saya memulai pencarian saya, dan ini yang saya temukan:

  1. Teori Furukawa tersebut pertama kali terbit di Jepang pada tahun 1927, dengan judul “The Study of Temperament through Blood Type”. Studi tersebut menyajikan penjelasan mengapa terjadi pemberontakan di Taiwan atas Jepang, studi tersebut menunjukkan banyak dari pemberontak Taiwanese adalah bergolongan darah O. Teori tersebut dipopulerkan kembali pada tahun 1970-an di Jepang oleh seorang pengacara dan juga seorang penyiar yang tidak punya latar berlakang sama sekali dibidang medis, Masahiko Nomi.
  2. Teori tersebut lebih berhubungan dengan ciri-ciri umum atau archetype dibandingkan penggolongan karakteristik sifat manusia. Misalnya golongan darah ditengarai seorang yang mencintai kedamaian tetapi juga seseorang yang selalu menuntut. Golongan darah O bersifat social dan jujur serta tidak menyukai otoritas. Pada teori ini Rh (rhesus) tidak mempunyai pengaruh apapun pada generalisasi.
  3. Penelitian itu sendiri sudah menjadi legenda di Jepang. Penyerapannya sudah dilakukan oleh banyak aspek media. Tokoh-tokoh anime dan manga biasanya dilengkapi dengan golongan darah mereka untuk menandakan sifat mereka. Bahkan beberapa vending machine atau mesin otomatis menyediakan kondom yang disesuaikan dengan golongan darah pemakainya.
  4. Kalau melihat informasi yang disampaikan di Wikipedia, walaupun penelitian Furukawa adalah ilmiah tetapi masyarakat Jepang melihatnya lebih sebagai panduan yang sama halnya dengan astrologi bagi di Eropa atau Penanggalan bagi orang jawa.

 

Untuk itu, saya sendiri masih sangsi apakah penelitian untuk melihat aspek hubungan atau pengaruh dari golongan darah akan bisa mempunyai signifikansi. Terlalu abstrak menurut saya bahwa kita mengeneralisasikan pola komunikasi kita karena keturunan kita. Penelitian di bidang komunikasi pun pada hakikatnya mempelajari aspek interaksi dari bahasa, bahwa setiap sentuhan dan perkataan yang lakukan adalah proses pertukaran pesan. Jadi aspek yang dikaji lebih dititikberatkan pada reaksi manusia. Tetapi karena yang mengajak ini seseorang professor, dia pasti sudah punya landasan yang kuat untuk melakukan penelitian ini. Atau mungkin, saya saja yang masih kurang pengalaman dan masih harus banyak membaca. Wallahualam.

1 Response so far »

  1. 1

    Ayu said,

    ehm…saya juga jd tertarik membaca ini pak, ditunggu info berikutnya…


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: