Archive for digital media

New Notions of Media (bagian 1)

Salam,

 

Tulisan ini dibuat berdasarkan kuliah umum Dr. Karol Jakubowicz, seorang pakar media di Eropa khususnya pada ’public service broadcasting’ hari ini (16/04/2009) di Tallinn University, Estonia. Kuliahnya berjudul ”New Notions of Media: How digital technologies and social change redefine the media.” Kuliah tersebut sangat menarik sekali dan memberikan banyak inspirasi kepada saya mengenai perkembangan teknologi media khususnya pada genre new media. Untuk itu pula saya bermaksud untuk membagi pengalaman saya kepada para pembaca dengan harapan akan memicu diskusi dan dialektika yang berguna pada kondisi di Indonesia kedepannya. Karena kuliahnya sangat panjang begitu pula catatan saya maka saya membagi tulisan ini menjadi setidaknya 2 bagian.

 

Dr. Jakubowicz memulai kuliahnya dengan menyajikan fakta dan data mengenai perkembangan user-generated media (UGM) di US dan Eropa. Fakta mengatakan bahwa saat ini 6 dari 10 remaja usia 17-24 di Eropa dan US tidak lagi menonton siaran televisi, at all. Waktu yang dihabiskan oleh remaja-remaja tersebut untuk berselancar di dunia maya (accessing the web) telah melebihi (surpass) waktu yang mereka habiskan di depan televisi. Yang menarik dari presentasi awal ini menurut saya adalah pernyataan Jakubowicz yang membuat persamaan online video service sebagai suatu bentuk media rich. Ini menarik karena kalau kita tinjau teori media richness yang diajukan oleh Daft & Lengel (1986) yaitu bahwa komunikasi tatap muka adalah komunikasi yang memiliki tingkat kekayaan media tertinggi. Dimana suatu media dianggap media yang kaya akan proses komunikasi dan informasi jika media tersebut efektif dalam membuka saluran penyampaian pesan baik verbal maupun non-verbal. Jadi ukuran yang dipakai teori ini adalah kualitas penyampaian pesan. Nah, merujuk pada anggapan Jakubowicz bahwa online video service adalah sebuah media yang kaya (tidak jelas apa yang dia maksudkan ’kaya’) lebih menunjukkan pada kuantitas dari pesan yang dapat disampaikan oleh media yang bersangkutan. Terlebih lagi kalau jika kita telaah bahwa online video service itu sendiri sebenarnya adalah sebuah meta-media, media yang menyampaikan media. Disini dugaan awal saya adalah adanya kontradiksi pada pengertian media kaya informasi itu sendiri.

 

Selanjutnya Jakubowicz, menyinggung pesatnya perkembangan twitter sebuah suatu bentuk baru pelayanan informasi. Dia mengajukan pertanyaan apakah twitter bisa dianggap sebagai suatu media berita (news media)? Hmm, saya kira ini memerlukan diskusi yang lebih lanjut di luar artikel ini.. (tentunya jika ada yang tertarik). Jakubowiczkemudian menyajikan konsepnya mengenai bagaimana perubahan paradigma (sebuah istilah yang masih kabur..) dari komunikasi massa saat ini. Saya tidak bisa menyajikan diagramnya karena diagram ini adalah HAKI-nya Dr. Jakubowicz, tetapi saya bisa coba jelaskan. Pada definisi komunikasi massa konvensional, proses komunikasi dijelaskan melibatkan karakteristik seperti informasi dari satu produser kepada banyak penerima (one-to-many, sifat komunikan yang masif (mass audience) dan adanya peran penjaga gawang (gatekeeper) dalam menyaring informasi/berita. On the other hand, adanya proses komunikasi pribadi (private) yang melibatkan interpersonal ditandai dengan karakter komunikan yang individual dan penyebaran informasinya yang dari satu produser kepada satu penerima (one-to-one).

 

Jakubowicz argued bahwa saat ini telah terjadi proses silang konversi (cross-convergence) antara proses komunikasi massa dengan komunikasi pribadi (interpersonal).  Media massa tidak lagi hanya menyajikan informasi dari satu penerbit (publisher) sebagai produser ke banyak penerima tetapi proses informasi juga berjuktaposisi dengan memfasilitasi banyak pembaca sebagai produser informasi kepada penerbit (many-to one) dan pula banyak pembaca kepada banyak penerbit (many-to-many). Proses ini memungkinkan, misalnya, setiap orang menjadi penerbit dengan menulis sebuah berita di blog pribadinya dan semua pembaca bisa memberikan komentar (many-to-one) atau google news sebagai contoh media agregasi dari berbagai layanan berita bagi semua anggota layanan tersebut (many-to-many). Proses tersebut dimungkinkan dengan hadirnya internet sebagai penengah dari proses konvergensi tersebut. Jakubowicz juga mencontohkan layanan televisi berbasis broadband (BTV) yang bisa dianggap sebagai pilar keempat dari layanan penyiaran televisi setelah satelit, kabel, dan terrestrial.

 

Selanjutnya Jakubowicz menyajikan konsep dari adanya perubahan mode komunikasi manusia saat ini, berkaitan dengan penggunaan new media, kontrol informasi dari yang terpusat menuju individu dan kontrol atas waktu dan pilihan subjek. Menurutnya terjadi pergeseran dari kontrol informasi yang sebelumnya; Pertama, pada tingkatan terpusat disebut alokasi (allocation) dengan karakteristik kontrol waktu dan pilihan subjek yang didorong (push information) menuju proses komunikasi konsultasi (pull information). Kedua, mode kontrol proses komunikasi tersebut kemudian menyilang pada tingkatan individu dari mode alokasi menuju mode pembicaraan (conversation) dimana feedback individu sangat dimungkinkan. Proses baru ini kemudian disebutnya sebagai ’semiotika demokrasi’ (semiotic democracy). Menurut Jakubowicz pada mode komunikasi baru ini dimungkinkan tidak adanya lagi passive communication seperti yang umumnya ditemui pada proses komunikasi massa konvensional. Selain itu, dia menggarisbawahi pada munculnya fenomena disintermediation dimana pihak-pihak yang menghasilkan berita tidak lagi tergantung pada perusahaan media ataupun jurnalis untuk menghasilkan sebuah berita. Beliau mencontohkan lahirnya gerakan citizen journalism dan fenomena bloggers sebagai penghasil berita. Lebih lanjut, dijelaskan pula suatu konsep yang disebutnya Neo-intermediation dimana sekali lagi Jakubowicz mencontohkan content aggregators dan packagers, penjelasan ini menurut saya bisa disebut sebagai fenomena meta-media.

 

Saya akan cukupkan sampai disini dulu untuk bagian yang pertama ini.

Comments (2) »

Another thought about seamless communication..

Ini artikel dari kompas cetak hari ini (25/03/2009) yang saya unduh dari versi onlinenya. Ini kali pertamanya saya menampilkan tulisan orang lain di blog ini karena menurut saya tulisan dosen UI yang juga senior editor di harian Kompas ini selain bagus juga tepat dengan apa yang saya pikirkan saat ini, yaitu tentang seamless communication dan bagaimana perkembangan teknologi saat ini telah mencapai tahap baru dalam evolusi media. Open access, open source, dan gerakan open2 lainnya turut berperan dalam mendistribusikan teknologi seamless communication. Pada kutipan dibawah Ninok Leksono membahas tentang iNews dan E-book dan bagaimana suratkabar kertas mulai merasa tersisih oleh teknologi ini. Satu antitesis dari dialektika fisik media. Ah, saya gak sabar untuk melihat teknologi apa yang akan menjadi sintesisnya..

anyway, enjoy!

————————————————————————————————————————————————–

Diunduh dari: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/25/05073081/inews.dan.e-book.selamatkan.koran

LAPORAN IPTEK
iNews dan E-book Selamatkan Koran?

Rabu, 25 Maret 2009 | 05:07 WIB

 

Oleh NINOK LEKSONO

Surutnya era surat kabar di berbagai penjuru dunia telah banyak diwacanakan, antara lain ditandai oleh surutnya pendapatan iklan dan jumlah pelanggan, lebih-lebih dari kalangan muda. Tak bisa disangkal lagi bahwa generasi muda yang juga dikenal sebagai Generasi Digital atau Generation C lebih menyukai peralatan (gadget) untuk mendapatkan informasi.

Menghadapi era transisi atau era baru ini, berbagai pendapat masih saling adu kuat, antara yang masih percaya akan kelangsungan hidup surat kabar dan yang yakin bahwa media yang pernah sangat berpengaruh ini satu hari nanti akan punah.

Hari-hari ini, tokoh besar media seperti Rupert Murdoch berada dalam kebimbangan besar. Sesaat sebelum resesi marak, Murdoch membeli Dow Jones yang menerbitkan koran The Wall Street Journal senilai 5 miliar dollar AS (sekitar Rp 60 triliun). Itu karena Murdoch dikenal sebagai sosok yang punya kelekatan kuat terhadap surat kabar (meski ia juga diakui sebagai mogul multimedia abad ke-21). Tetapi, kini ketika surat kabar mengalami kemunduran paling buruk semenjak Depresi (Besar tahun 1930-an), analis media di Miller Tabak, David Joyce, sempat mendengar dari para investor bahwa News Corp (konglomerasi media milik Murdoch) boleh apa saja, kecuali koran (IHT, 24/2).

Tantangan terhadap media cetak memang sungguh hebat. Orang membandingkan, mengapa media ini tak setahan TV, misalnya. Bahkan, ketika orang sudah banyak menghabiskan waktu di depan layar internet, atau juga di layar video, tidak sedikit pula yang masih terus bertahan di depan layar TV. Sayangnya, dalam pertempuran di antara layar-layar tersebut, media cetak tertinggal di belakang (Print media losing in a world of screens, IHT, 9/2).

Berbagai ide dan upaya telah dilontarkan untuk menyelamatkan surat kabar. Satu problem yang disadari ketika surat kabar masih diharapkan terus menjadi sumber keuntungan adalah bahwa akan ada kesulitan yang melilit. Penjelasan ini bahkan muncul ketika versi online koran sangat berpengaruh seperti The New York Times sudah amat maju, dengan pengakses unik 20 juta. Penyebabnya adalah penghasilan dari online hanya mampu mendukung 20 persen kebutuhan stafnya.

Menghadapi defisit ini, diusulkan ada pengerahan dana abadi (endowment) bagi institusi media cetak sehingga mereka terbebaskan dari kekakuan model bisnis, dan dengan itu media cetak tetap punya tempat permanen di masyarakat sebagaimana kolese dan universitas. (Lihat pandangan David Swensen, Chief Investment Officer di Yale, dan Michael Schmidt, seorang analis finansial, di IHT, 31/1-1/2.)

Dukungan teknologi

Sebelum ini, salah satu pemikiran yang banyak dikemukakan untuk meloloskan media cetak dari kepungan media baru adalah dengan bergerak ke arah multimedia sehingga berita tidak saja disalurkan untuk koran, tetapi juga untuk media lain, dari radio, TV, hingga internet dan mobile/seluler. Ini selaras dengan realitas baru, di mana pencari berita memang dari kalangan pengguna media noncetak dan media baru. Paham pun beranjak dari pembaca (readership) ke audiens. (Ini pada satu sisi juga akan membebaskan pengelola surat kabar dari tekanan meningkatkan oplah yang semakin sulit.)

Dalam kaitan ini pula muncul sejumlah inisiatif yang diharapkan mampu mempertahankan eksistensi surat kabar. Dua di antara inisiatif teknologi yang dimajukan untuk berkembang, dan seiring dengan itu bisa membantu surat kabar, adalah iNews (berita melalui perangkat internet) dan e-book (buku elektronik).

iNews

Sebelum ini, salah satu model bisnis untuk mengangkat industri musik adalah melalui apa yang dilakukan Apple dengan toko musik online-nya yang terkenal, iTunes, yang tahun lalu menjual 2,4 miliar track (lagu).

Yang disediakan oleh Apple kemarin ini adalah antarmuka pengguna yang mudah digunakan dan kerja sama luas dengan perusahaan musik. Dengan itu, petinggi Apple, Steve Jobs, bisa membantu bisnis (industri musik) yang nyaris ambruk akibat maraknya aktivitas bertukar lagu (file sharing). Memang dengan itu Apple dituduh mengerdilkan merek besar. Tetapi, itu tetap ada baiknya karena toh perusahaan musik yang dikerdilkan tadi masih tetap hidup sampai kini.

Pengelola bisnis surat kabar pun bisa waswas bahwa Apple bisa melakukan hal yang sama terhadap mereka. Caranya juga sama, meyakinkan jutaan pembaca yang tertarik, yang selama ini mendapatkan berita secara gratis melalui situs surat kabar—seperti kompas.com—untuk membayar.

Pilihan ini memang tampak lebih ditujukan untuk menyelamatkan institusi pers karena manakala pendapatan merosot, yang terancam bukan hanya perusahaan yang memiliki koran, tetapi juga berita yang dihasilkannya (David Carr, Could an iNews rescue papers?, IHT, 13/1)

Ide mencari bantuan juga dilakukan sejumlah media lain karena jelas ”gratis bukan sebuah model (bisnis)”. Cook’s Illustrated yang punya resep segudang dilanggan oleh 900.000 orang dan ecerannya mencapai 100.000. Selain itu, perusahaan ini punya 260.000 pelangganonline yang membayar 35 dollar AS per tahun. Pertumbuhannya mencapai 30 persen tahun 2008.

Di luar itu, tetap harus diakui, paham gratis masih dominan di dunia maya. Yang piawai tentu Apple, yang bisa membujuk pembeli gadget-nya untuk mau membayar musik yang dibeli. Jobs melihat musik sebagai bisnis perangkat lunak untuk memacu penjualan iPod dan iPhone. Bisnis musik tidak sepenuhnya senang dengan itu, tapi terbukti bisa membujuk pendengar membayar isi (lagu) untuk perangkatnya.

Dengan alam pikir ini pula dipikirkan gadget yang juga bisa diterapkan untuk koran. Misalnya iPod touch yang akan diluncurkan musim gugur tahun ini, dengan ukuran layar 18 sampai 23 cm.

Untuk e-book ada strategi lain. Amazon, yang sebelum ini telah membuat alat pembaca buku elektronik bernama Kindle, belum lama ini mengatakan bahwa selain dengan Kindle, buku elektronik juga akan bisa dibaca dengan smart-phone. Plastic Logic, pembuat alat e-reader lain, kini juga telah membuat persetujuan dengan sejumlah majalah dan surat kabar (The Economist, 14-20/2).

Skenario serupa seperti diuraikan di atas untuk iNews—yakni dengan pembundelan pemasaran antara alat dan isi (content) diharapkan bisa diterapkan—untuk alat-alat pembaca e-book ini. Dengan itu, meski koran dalam wujud tradisionalnya surut, lembaganya diharapkan bisa tetap lestari.

Leave a comment »

Lanjutan seamless communication

Salam,

Kalau posting yang ini baru dari laptop. kembali ke masalah seamless communication. Kalo Henry Jenkins bicara mengenai convergence culture antara old and new media. Maka fring adalah salah satu contohnya. 3 tahun yang lalu kita masih terpana dengan fenomena facebook, tahun lalu kita masih terpana dengan fenomena twitter, saat ini kita mulai terpana dengan fenomena semantic applications dan convergence applications. Ada yang mengatakan ini adalah bagian dari ubiquitous technology atau augmented application. Apa yang saya lihat bahwa sejarah selalu terulang dan saat ini apa yang dialami social media sama dengan apa yang dialami software development lainnya, mereka kemudian bersatu. Sudah merupakan nature of human bahwa insting kita akan selalu menuntut kita lebih menyenangi hal yang sederhana. Tahukah anda lukisan yang paling indah? bukan monalisa yang ada di Louvre. Saya sudah lihat itu monalisa, gak ada bagus2nya. Kalah ama sketsa wajah dari Leonardo da Vinci yang saya lihat di Parma. Ini menurut saya. Tapi saya mengerti mengapa orang menyenangi monalisa. Karena lukisan ini menyatukan ide2 kita tentang keindahan. Tidak ada yang lebih indah daripada sebuah gambar lingkaran yang sempurna. Ada sebuah cerita bahwa pada abad pertengahan ada seorang raja di eropa yang meminta seorang filsuf yang juga seorang ahli lukis untuk melukiskan lukisan terindah di dunia untuknya. Tahu apa yang digambar oleh pelukis-filsuf itu? dia menggambar sebuah lingkaran sempurna dengan satu tarikan. Pesan yang dibawa oleh sebuah gambar lingkaran sempurna itu sangat kuat, sebuah kesempurnaan. Sebuah awal dan akhir di saat yang bersamaan.

 

Insting manusia juga yang mengajarkan estetika untuk menyenangi keseluruhan (wholeness), kesederhanaan (simplicity), dan  kebersatuan (uniteness). Melihat fenomena bergabungnya social media developers seperti social networking sites yang akhirnya merujuk pada satu website, facebook. Hal ini menunjukkan bahwa estetika manusia memang belum berubah. Saya kira, melejitnya perkembangan facebook tidak karena sites yang lain buruk atau tidak menyediakan fasilitas yang sama. Semua Social Networking Sites (SNS) mempunyai fasilitas yang hampir sama. Tetapi sejarah lah yang mengarahkan kita bahwa kita sebenarnya menyukai kebersatuan (uniteness). Dan kita memilih facebook, despite berbagai alasan, karena kita menginginkan hak yang sebenarnya sederhana. Satu SNS untuk semua fasilitas, itu saja. Tanggapan yang sama juga saya kenakan pada Fring app untuk iPhone ini. Fring menyatukan hampir semua accounts chat yang popular di internet. Kemampuan fring untuk bisa di embed di berbagai tipe cell phone membuatnya sangat kuat sebagai contoh trend mobile communication next decade; murah, seamless karena geo-independence dan interoperable, tidak hanya tergantung pada satu device.

Leave a comment »

Seamless communication

Salam,

Saat menulis thread ini saya sedang mencoba app fring untuk iPhone. App nya menarik juga, bukan promosi sih.. Tetapi memang begitu menurut saya. Saat ini social media sudah menunjukkan evolusi baru yaitu convergence dari seamless communication. Tapi lebih enaknya says akan lebih jelaskan maksud saya posting selanjutnya. Secanggih2nya iPhone tetep aja layarnya kecil sehingga tidak nyaman buat nulis panjang.

Leave a comment »

Social Networks: Trends 2009

Salam,

Sangat menarik jika melihat prediksi beberapa pengamat social media tentang tren social media 2009, terutama soal apakah google akhirnya akan membeli twitter atau tidak? lalu mengenai killer apps, salah satu ide dahsyat tahun ini mungkin friends synchronization, I dunno mungkin mengikuti jejak facebook connect. Bagi saya sendiri, di tahun 2009 kita kan melihat beberapa kuda hitam social network berbasis semantic seperti twine atau viadeo akan semakin besar, microblogging akan lebih di syncron-kan lagi dengan aplikasi mobile seperti makin banyaknya user yang menggabungkan facebook mobile dan plurk. Trendsspotting memprediksi pengguna facebook sudah mencapai 150 juta orang, itu angka yang fantastis, yang berarti juga akan penurunan market share bagi SNS yang lain. Lalu apalagi ya, hmm.. mungkin niche social network application, aplikasi social network yang ditujukan bagi komunitas exclusive, well ini bukan barang baru sih, ning.com sudah mulai menjualnya dari beberapa tahun yang lalu, akan tetapi aplikasi yang dimaksud disini lebih ditujukan bagi aplikasi korporat seperti penggabungan dengan microsoft silverlight, anyway implementasinya mungkin akan berlanjut melebihi 2009. Saya juga ikutkan file presentasi dari trendsspotting.com tentang trend social media di 2009, enjoy!

social-media-influencers-2009-by-trendsspotting2 

Riza

Leave a comment »

Tentang web 4.0

Salam Tahun Baru!

Jika kita membaca karakteristik dari web 4.0 yang saya posting pada artikel sebelumnya, kita masih melihat kerancuan pada penggunaan semantic technology pada web content. Jika kita mengasumsikan bahwa web 3.0 adalah tentang semantic capability, content-content yang sudah sepenuhnya mempunyai kemampuan untuk diassosiasikan berdasarkan konteks maka apa yang dijabarkan kedua pakar tersebut hanya lah pengembangan dari web 3.0 atau bisa dibilang web 3.0 versi 2 atau seterusnya. Dalam benak saya, dalam 4-5 tahun kedepan setelah munculnya aplikasi semantik  yang siap pasar maka pengembangan selanjutnya adalah bagaimana membuat aplikasi tersebut mampu berpikir sendiri dalam artian bahwa setiap query adalah sebuah proses untuk menghasilkan feedback bagi yang bertanya, sebuah implementasi artificial intellegence. Saat ini dengan RDF dan SPARQL hanya menyediakan wadah bagi OWL untuk menelusuri content2 yang ada di internet berdasarkan kata per kata, jika sebelumnya sudah dimasukkan input assosiasi dan occurance maka hasil pencarian yang ada akan diperkaya dengan relevansi konteks, tetapi itu adalah kerja yang menurut saya masih masuk kategori serendipity. Ok! berapa banyak konten yang sudah diinput dan ready-RDF? saya yakin tidak lebih dari 20 persen dari total keseluruhan konten yang ada di cyber web. Lalu sejauh ini apa yang dilakukan oleh kita para penggiat informasi dan jutaan pengguna internet lainnya berhubungan dengan kurangnya informasi yang bisa di “semantik” kan? kita menggantinya dengan informasi yang kita buat sendiri, jadi ada duplikasi informasi, contohnya dalam mencari informasi mengenai buku berdasarkan metadata (katalog) pada perpustakaan digital, kita bisa merujuk pada katalog OCLC tetapi bagaimana jika OCLC tidak menginput assosiasi and occurance, maka aplikasi semantik tidak ada bedanya dengan page rank-nya google sekarang. Kasusnya akan menjadi lain jika OCLC menginput assossiasi and occurance dari setiap object, tetapi itu berarti kerja untuk menginput sekitar ratusan juta judul buku, kerja yang melelahkan apalagi jika menyangkut kualitas kerja, salah input maka tidak akan muncul sebagai hasil pencarian. Itu hanya contoh disatu lembaga, bagaimana dengan keseluruhan konten di cyber web, karakteristik web 4.0 di bawah rupanya ingin mengakomodasi problem ini, karena itu mereka bicara, bahwa butuh kesediaan (willingness) dari pengguna internet untuk menjelaskan setiap konten yang mereka masukkan ke dalam internet, yeahh… right… hello… itu adalah impossible, mengasumsikan setiap orang untuk berpartisipasi kecuali bumi sudah dikuasai oleh satu ideologi dan semua orang setuju.

 

Bagaimana dengan perkembangan recommender system, seperti amazon, ebay dst? well, yeahh, itu menarik… dan cukup membantu, tetapi jika kita melihat prinsip logika probabilitas yang digunakan, saya masih mengasumsikan itu juga tidak lebih dari serendipity, karena itu mereka kasih tulisan, “mereka yang membeli…. juga membeli ….”, ini adalah ekspresi dugaan. Kayaknya kok skeptic sekali ya? tidak, saya hanya mengkritisi karakteristik yang diajukan di artikel sebelumnya,  mengenai web 4.0 saya malah sangat optimistic. Imajinasi saya adalah ketika OS sudah dijalankan via internet jadi tidak lagi beli CD lalu install atau OS di setiap PC, imajinasi saya membayangkan google sudah menjual OS nya sendiri (hint: ini mungkin bukan imajinasi, liat contoh Android) maka kemampuan searching dari setiap pc sudah langsung terinstall dengan search engine di internet (ada kemungkinan yahoo, dan microsoft mungkin berbuat serupa) jadi setiap kali anda bertanya atau memasukkan kata di kotak kecil di ujung layar anda, maka hasilnya tidak hanya yang ada di PC anda tetapi juga yang ada di cyber web, lengkap dengan UGI yang interaktif (facebook mungkin menjual versi advanced-nya). Eiittt… tidak cukup hanya disitu, itu hanya memunculkan keunggulan web 3.0 (“the web is you!” jargon), pada web 4.0, laptop anda akan bertanya lebih lanjut, “apakah informasinya memuaskan?” jika anda melakukan pencarian, atau bahkan jika kita tidak bertanya, laptop kita akan otomatis memberi informasi yang di duga akan menarik perhatian kita, seperti, tiket nonton film atau hadiah ulang tahun buat anak kita. Kalau begitu web 4.0 mengasumsikan semua komputer terhubung dengan internet dong? ya iyalah, masa ya iya donkkk… tapi bagaimana dengan daerah yang belum terhubung dengan internet, ya kalau begitu mereka ya tidak bisa menikmati web 4.0, gitu aja kok repot, seperti komputer di Pemda Lampung yang masih pake windows 95 (knock..knock.. dunkk…!!)

 

segitu imajinasi saya tentang web 4.0..

 

Riza

Comments (2) »

Workshop on Greenstone (2)

Salam,

 

Tulisan pada hari ke 2 workshop on greenstone ini terlambat karena sesi ke 2 tersebut saya begitu disibukkan dengan materi yang ada, mulai jam 9 pagi hingga jam 7 malam, satu2nya jeda yaitu makan siang selama 1 jam, itupun lebih saya manfaatkan untuk berkonsultasi dengan Ian Witten. Beberapa hal menarik mengenai greenstone yaitu mengenai macros-nya. Stringnya hanya berdasarkan plain HTML jadi pustakawan awam pun bisa mengoperasionalisasikannya. Ian mendemonstrasikan beberapa hal seperti mengorganisir koleksi multimedia dan personalisasi interface semuanya dengan melalui command di librarian interface. Walaupun begitu, kesimpulan akhir saya tetap sama dengan laporan yang saya buat tahun lalu, greenstone terlalu kaku dalam pengertian desain interface dan metadata harvesting, berbeda dengan Ganesha Digital Library yang menggunakan konsep network of network (neons), greenstone di desain hanya untuk single entry server, jadi server yang mengelola metadata dan database material adalah sama. Saya bertanya kepada Ian apakah ia ada keinginan untuk mengubah tampilan greenstone untuk lebih friendly and lebih ‘2.0’ ian menjawab bahwa greenstone adalah software DL yang berasal dari computer scientists persepective jadi untuk mengubah tampilan greenstone setidaknya 5 tahun ke depan belum ada dipikirannya. Menurut saya itu sangat disayangkan, mengingat trend interface adalah seperti trend perilaku manusia, tidak mengikuti trend yang ada berarti menganulir bahwa ada pengguna dari software yang kita kembangkan. Anyway, that’s just my opinion, here’s some pictures from the workshop.

 

 

  

Comments (22) »

Workshop on Greenstone (day 1)

Salam,

 

Hari ini adalah hari pertama workshop on greenstone dengan Ian Witten, pencipta, well lebih tepat head of coordinator, dari greenstone, dan pengarang bestseller “How to Build a Digital Library?”. Anyway, he is a big man. Sejak awal, Ian sudah berhasil menarik perhatian para peserta dengan joke2 nya, not bad for a computer professor, sejak awal juga saya sudah dibuat sibuk karena saya satu2nya perserta yang berhasil menginstall greenstone di Vista dan ini menyebabkan saya agak tertinggal beberapa modul (kayaknya 5 modul awal deh…). Tetapi secara keseluruhan tidak ada hal baru yang saya pelajari di bagian interfacenya, karena semua itu sudah saya pelajari tahun lalu di oslo. Beberapa hal yang baru terutama dengan penggunaan metadata dan hirarki yang ternyata banyak tips-tipsnya. Ian secara baik hati menyontohkan customization hirarki dan beberapa tips mengelola search dan klasifikasi metadata.

 

Besok akan saya update dengan foto-foto dari workshop dan beberapa hal baru yang saya pelajari tentang greenstone, karena sekarang capek banget, mau tidur…

 

Riza

Leave a comment »

Social software di website PTN

Salam,

Saya melakukan survey kecil-kecilan untuk melihat sebenarnya seberapa banyak website2 PTN di Indonesia yang sudah menggunakan social software. Hasilnya cukup mengejutkan di satu sisi sedangkan di sisi yang lain sudah bisa ditebak. Jumlah website yang sudah menggunakan social software seperti di duga masih dibawah setengah, 40% tepatnya. Ini saya hitung dari jumlah website yang menerapkans setidaknya RSS feed walaupun begitu saya kagum dengan beberapa website yang telah menggunakan blogs bahkan ada yang dispesifikasikan seperti blog untuk mahasiswa, dosen, dan untuk karyawan. Walaupun jumlahnya masih sekitar 14% dari total website tapi saya anggap sudah bisa menunjukkan trend penyerapan TIK yang cukup baik. 14% juga jumlah website yang telah menyediakan fasilitas chat/IRC/atau forum diskusi interaktif.

Secara keseluruhan saya menilai bahwa PTN-PTN di Indonesia masih rendah dalam pemanfaatan social software di website resmi institusinya. Mengingat teknologi ini sebenarnya bukan hal baru bahkan jika mengasumsikan bahwa web 2.0 adalah masa dimulainya pemanfatan social software maka setidaknya sudah 4 tahun sejak web 2.0 mulai di dengungkan dan PTN-PTn di Indonesia sepertinya belum begitu mendengarnya, padahal saya kenal dengan beberapa orang ‘hebat’ di bidang web technology di Indonesia yang justru di websitenya tidak ada social software sama sekali, irony. Saya berpendapat bahwa website Universitas Padjajaran adalah website PTN terbaik di Indonesia dalam segi pemanfaatan social softwarenya terutama dengan dengan adanya portal live.unpad dan video.unpad yang menurut saya inovatif dan patut ditiru atau dilampaui oleh website PTN-PTn lainnya di Indonesia. Anyway, berikut tabelnya; enjoy

Riza

Leave a comment »