Archive for General issues

Google Wave at first sight

Salam Damai,

Dua hari lalu saya menjadi satu diantara 100.000 orang yang diundang Google untuk menjadi tester Beta version dari Google wave. Undangan itu menclok di inbox saya dengan tulisan ‘Your invitation to preview Google Wave’ dan link ke versi test dari Google wave di dalamnya. Mungkin diantara pembaca ada juga yang mendapat undangan ini. Tulisan ini adalah pendapat saya pribadi mengenai Google wave dan tidak mencerminkan pendapat dari keseluruhan sampel. Sebelum mencoba aplikasi terbaru dari Google ini saya mencoba mencari tahu dulu ulasan dari blogs terkenal seperti readwriteweb, tujuannnya supaya saya yakin bahwa link yang dikirim ini bukan spyware atau hoax. Setelah yakin dan mendapat kesan pertama dari berbagai ulasan yang ada di internet saya kemudian mencobanya.

Pendapat saya akan berfokus pada aspek computer-mediated communication dan apakah Google wave bisa dikategorikan sebagai groupware atau social software. Sebagai awalan saya menganalisa tiga kolom yang digunakan pada main interface. Kolom paling kiri mempunyai fitur-fitur yang sama dengan kolom kiri Gmail, kolom tengah adalah email atau ‘wave’ anda, dan kolom paling kanan adalah isi dari wave yang anda klik. Kesan pertama saya bahwa Google wave bukanlah sebuah aplikasi email biasa. Mengapa saya katakan demikian? Google wave bisa disebut sebagai aplikasi email karena tampilannya yang hanya mengetengahkan satu main interface seperti email pada umumnya. Tetapi berbeda dengan aplikasi GoogleDocs. Google wave lebih berfokus pada kerja email dibandingkan lembar kerja (worksheet). Pada prinsipnya, menurut saya Google wave hanyalah protocol email yang dipersingkat sehingga model interaksi dapat lebih ringkas dan cepat. Untuk ini, kesan saya bahwa Google wave menawarkan kinerja interaksi yang lebih baik dari email biasa.

Pada inbox dari versi beta tersebut ada beberapa email yang sudah dikirimkan oleh pihak Google, salah satunya adalah multimedia email dengan video dan interactive petunjuk penggunaan Google wave. Video-video tersebut cukup membantu saya dalam memahami bagaimana menggunakan Google. Fasilitas unggulan yang ditawarkan oleh Google wave adalah meningkatkan kinerja kolaboratif real-time. Argumen saya berdasarkan contoh yang mereka berikan. Seperti penulisan kolaboratif dimana setiap anggota atau teman yang anda undang dapat mengedit email yang anda ciptakan, ini yang mereka sebut sebagai wave. Sebagai contoh, anda ingin membuat sebuah kegiatan piknik keluar kota dan anda mengundang teman-teman anda untuk sumbang saran mengenai tempat yang bagus untuk dikunjungi. Anda bisa memulai wave dari anda sendiri dengan menambahkan teman-teman anda yang anda bisa seleksi. Yang cukup menarik adalah anda harus menciptakan icon anda sendiri, seperti menciptakan profile buat facebook anda dan selanjutnya icon tersebut akan muncul disetiap wave.

Fitur yang menarik perhatian saya jelas kolom paling kanan dimana adalah perubahan besar dari menulis email biasanya. Wave sudah dilengkapi kemampuan memainkan pesan audio dengan adanya control mute sound di features bar diatas wave content. Selain itu, untuk lebih menyatukan dengan Google information ecosystem yang sudah ada. Pada features bar itu juga sudah dilengkapi dengan tombol Google maps, widget, dan URL gadget. Jadi tidak hanya video yang bisa di embed, aplikasi juga bisa di embed ke dalam wave. Berbeda dengan email biasa dimana transaksi bisa diperbarui dengan tidak me-reply email lama. Pada wave, diharapkan pengguna untuk tetap menggunakan satu wave untuk satu kegiatan. Ada kelebihan dan kekurangannya menurut saya, kelebihannya bahwa kita bisa mempunyai kendali yang lebih terhadap hal yang kita shared di dalam wave tersebut. Tetapi kekurangannya, bahwa pada tingkat personal, wave tidak cocok untuk digunakan karena tidak lebih baik dari email biasa.

Dari perspektif computer-mediated communication (CMC) jelas Google wave adalah sebuah terobosan dari permasalahan yang selalu meliputi paradox sinkronis-asinkronis dari CMC. Sejak awal diciptakannya aplikasi komunikasi berbasis komunikasi, kita selalu terhambat dan mulai membeda-bedakan antara komunikasi yang langsung (sinkronis) dan tidak langsung (asinkronis). Tidak ada yang menapik bahwa email adalah aplikasi internet yang paling ‘killer’ dan penggunaannya paling banyak hingga saat ini. Para penggiat internet terus berjuang menciptakan ‘the next app killer’ pengganti email, tetapi usah itu seperti bertepuk sebelah tangan, dengan cepat hilang ditelan waktu. Saya melihat Google wave adalah usaha Google untuk mencoba menjembatani apa arti sesungguhnya dari kerja kolaboratif dengan menggunakan computer. Bahkan saya bisa mengatakan bahwa apa yang diimplikasikan dari Google wave adalah sebuah usaha untuk memberikan makna baru dari kata komunikasi termediasi computer (computer-mediated communication).

Penelitian saya pada perilaku pengguna European Navigator menemukan bahwa users cenderung menggunakan moda CMC sinkronis dan asinkronis secara terpisah. Misalnya, mereka mengirimkan email yang berisi materi yang hendak mereka kerjakan secara kolaboratif dan kemudian menggunakan skype untuk mengontak dan atau mengkonfirmasi temannya secara langsung mengenai materi yang hendak dikerjakan. Jadi ada urutan disini. Pada Google wave saya lihat ada sedikit peningkatan (leveraged) kemampuan kerja kolaboratif. Wave yang kita ciptakan ada kemungkinan berinterkasi secara tertunda (delayed) tetapi jika dilakukan secara real time malah akan mendukung performa kita lebih baik lagi. Tetapi saya melihat masih adanya kemungkinan users untuk tetap menggunakan cara konvensional untuk berkomunikasi walaupun mereka telah bekerja dengan menggunakan Google wave. Unvcertainty adalah factor utama mengapa kita melakukan komunikasi. Kita berkomunikasi sehingga kita dapat mengurangi ketidakpastian dan kesimpangsiuran informasi yang kita miliki. Terlebih lagi, kita berkomunikasi untuk mengafirmasi ke-eksistensi-an kita.

Di Google wave pilihan untuk tetap mempertahankan status quo dari uncertainty tetap ada. Walaupun canggih, saya melihat Google wave akan segera hilang jika bersaing dengan aplikasi semantic web yang mulai bermunculan. Terlebih lagi, bagi Negara berkembang seperti Indonesia dimana 70% pengguna internetnya complain terhadap kecepatan akses internet mereka, maka untuk menciptakan kondisi ideal dari real-time collaborative seperti yang diinginkan oleh Google wave tetap saja akan menemui tantangan bandwith dan kemampuan computer penerima untuk mengolah data. Saya tidak mengerti mengapa tester dari readwriteweb mengatakan bahwa ‘user experience’ (EX) adalah masalah utama dari Google wave, tetapi saya juga tidak lebih bertentangan dengan mereka. Mungkin waktu penyesuaian dan model kolom yang lebih banyak telah mempersempit area kerja dibandingkan dengan menggunakan email biasa. Tetapi apa yang saya pahami mengenai EX yang terpenting adalah asumsi pengguna. Nah, jika kita bicara tentang perspesi pengguna berarti kita bicara mengenai interpretasi pengguna mengenai Google wave dalam hal ini semiotika telah bekerja sebagai point penting bagi pengembangan Google wave.

Tentu saja, point di atas adalah pendapat saya pribadi. Tetapi jika bukan saya saja yang berpikiran seperti itu, bukankah asumsi itu telah meninggalkan ranah subjektifitas dan menuju objektif? Mungkin saja. Lalu pada pertanyaan terakhir, apakah Google wave bisa dikategorikan groupware atau social software. Definisi saya mengenai social software tidak berubah, social software adalah aplikasi yang mendukung kinerja kelompok dan keberadaannya tidak bisa dilepaskan dengan model pengikutsertaan pengguna secara massive dan interactive. Sedangkan pengertian groupware menurut saya tidak berbeda dengan social software hanya saja groupware lebih menekankan factor kegunaan aplikasi bagi users dengan karakteristik dan tujuan tertentu. Sedangkan social software biasanya sudah men-set tujuan yang ingin diakomodasi dan mengharapkan users mengerti mengenai penggunaannya. Jika melihat definisi diatas, saya mengatakan bahwa Google wave bisa menjadi kategori baru dari social software dibandingkan groupware yang umumnya dibangun bagi kalangan tertentu. Pertama, Google wave adalah tersedia secara umum dan gratis. Kedua, Google wave menawarkan trans-aksi antar users sehingga memungkinkan untuk menciptakan inside application ata gadget tertentu. Disini fungsi Google wave telah berubah menjadi platform.

Saya kira cukup sekian, ulasan saya mengenai Google wave. Tidak banyak memang, karena itu masukan dari pembaca juga sangat saya harapkan. Tetapi yang terpenting menurut saya adalah ruang dan waktu. Hanya ruang dan waktulah yang dapat menentukan apakah Google wave dapat bertahan atau tidak. Kita lihat saja.

Iklan

Comments (2) »

PP tentang Dosen

Salam,

Berikut link kepada Peraturan Pemerintah tentang Dosen yang disahkan tanggal 26 Mei 2009 yang lalu. Ternyata memang tetap tidak mudah untuk meningkatkan kesejahteraan bagi dosen, tetapi jika kita memang berkualitas saya pikir PP ini justru akan banyak membantu. Insya Allah.

PP tentang Dosen

Leave a comment »

Dari Manohara ke Prita ke semiotika nomor urut

Salam,

Tulisan ini untuk merangkum persepsi saya tentang berbagai isu sejak tulisan terakhir saya tentang facebook. Maklum, satu bulan belakangan ini saya disibukkan dengan penyelesaian thesis, artikel dan abstrak yang harus saya kirim ke berbagai konferensi dan jurnal. Pertama, mengenai Manohara. Banyak pihak sudah membahas mantan model yang jadi model lagi ini (lho??). Yang menjadi ketertarikan saya yaitu mengenai bagaimana media di Indonesia terutama media online membahas isu tersebut. Saya ikut aktif memberikan komentar-komentar baik di Facebook atau Kaskus.us mengenai hal ini. Menurut saya, Manohara adalah salah satu dari sekian contoh bagaimana media mengarahkan isu tertentu (framing). Yang saya amati bahwa isu-isu yang berkembang kemudian melahirkan hubungan asosiatif dengan isu yang mungkin sebenarnya tidak berhubungan. Sangat menarik melihat bagaimana ekspresi pengguna media online menghubungkan Manohara sebagai puncak gunung es dari masalah hubungan Indonesia-Malaysia. Apalagi melihat isu-isu yang kemudian muncul seperti blok Ambalat dan penyiksaan TKW Siti Hajar. Manohara tidak lagi memerankan sosok korban KDRT melainkan telah menjadi duta kekesalan beberapa orang Indonesia tentang ’Malaysia’. Saya beri tanda kutip karena sebenarnya orang-orang tersebut pun sepertinya tidak melihat Malaysia sebagai sebuah negara melainkan sebagai sebuah stereotip, jika tidak mau dibilang metafora.

Berbicara mengenai stereotip dan metafora, saya melihat kasus Ibu Prita juga seperti itu. Jika rubrik Buras Lampung Post melihatnya sebagai people power, saya kira tidak. Apa yang dimaksud dengan people power? Apa seperti idiom vox populi vox die? Suara rakyat suara tuhan, siapa yang dimaksud dengan ‘rakyat’ dan atau ‘suara rakyat’? Menurut saya yang berkembang adalah metafora. Metafora atau methapor menurut kamus Princeton dapat didefinisikan sebagai a figure of speech in which an expression is used to refer to something that it does not literally denote in order to suggest a similarity. Ciri mendasar metafora adalah translogika dengan melahirkan virtual kesamaan antara dua subjek. Kok bisa sejauh itu? Itu kan cuma masalah email… Ya, memang. Praktisnya memang adalah masalah Groundswell, mengutip istilah dari Bernoff & Li (2008), atau jika merujuk pada pendapat Jakubowicz (2009) adalah sebuah praktek post-objective. Tindakan manusia selalu didasari oleh logika, itu yang harus kita yakini dulu. Kalo ada yang bilang, ah.. kan ada tingkah laku yang tanpa logika? Saya kira itu justru yang disebut kesalahan logika. Mari kita telaah kesadaran kolektif (mengutip archetype-nya Carl Jung) yang adalah imbas dari gerakan informasi tersebut dan bagaimana kesadaran tersebut mentransformasi isu ke dalam bentuk tanda (sign). Kasus Ibu Prita sama seperti kasus Manohara, berkembang karena spotlight media. Baik pada kasus Manohara ataupun Prita, spiral informasi bergerak sentripetal dari isu utama. Laju isu kemudian lahir dengan menyinggung substansi-substansi lain seperti; ketidakpuasan beberapa pihak dengan UU ITE, masalah perbatasan Indonesia-Malaysia yang tak kunjung selesai, nasib TKW, dll. Persinggungan tersebut tidak diasosiasikan secara instant.

Para pembuat berita, atau media sebagai entitas, melihatnya melalui kesamaan eksistensi, melalui ciri-ciri yang lalu dikristalkan dengan melabelkan isu ke dalam kata-kata sederhana seperti ’Manohara’ untuk mewakilkan ketidakpuasan kepada Malaysia, untuk merepresentasikan kekerasan dalam rumah tangga, kisah sukses (dalam pengertian berhasil kabur dari lingkungan yang menjeratnya), nasib orang Indonesia di rantau hingga alternatif tren pemberitaan selain pemilu. Tak pelak, ada rumah makan yang menambah embel-embel Manohara sehingga nama rumah makan tersebut menjadi ’RM Ayam Goreng Manohara’, atau ’jilbab dan tas Manohara’ untuk melabelkan sebuah model jilbab dan tas yang banyak dijual di Tanah Abang, Jakarta. Ternyata pada kasus rumah makan, asosiasi yang dihasilkan berkonotasi sebagai ’kisah sukses’, ’alternatif’, dan tren stereotip. Pada kasus jilbab dan tas, hubungan yang terbentuk adalah paradigmatik. Makna dari bentuk jilbab dan tas tersebut digantikan dengan apa yang orang-orang pikir tentang Manohara (dan kebetulan Ibu Prita juga berjilbab), lagi-lagi tren stereotip. Hubungan asosiasi dan paradigmatik tersebut tidak hanya dipikirkan oleh satu orang melainkan ribuan, bahkan mungkin jutaan se-Indonesia. On the other hand, kasus Ibu Prita mempunyai urutan kelahiran asosiatif yang berbeda dengan kasus Manohara. Pada kasus Ibu Prita, labelisasi lahir sebelum kasus selesai, sebaliknya pada kasus Manohara. Ini adalah permainan metafora. Ibu Prita kemudian menjadi metafora dari ‘korban malpraktek’, dan ‘fenomena ITE’ di Indonesia. Sadar ataupun tidak disadari oleh Ibu Prita, metafora terhadap dirinya adalah hal yang menyelamatkan dirinya.

Kasus terakhir adalah mengenai nomor urut capres. Tadinya saya mau menuliskannya kedalam bentuk artikel untuk dimuat dikoran tetapi saya kira tidak perlulah, toh kalo saya ngomong semiotik apa ada yang ngerti… (bukannya merendahkan lho, hanya saja yang tidak mengerti lebih banyak dari yang mengerti…). Pendapat saya mengenai semiotika nomor urut capres dilandasai setelah banyaknya paranormal ataupun pembicaraan di forum-forum online tentang pendapat mereka pada masing-masing nomor urut. Yang unik adalah mereka melakukan apresiasi tanpa sadar dengan mengkonstruksi persepsi yang sudah dimiliki oleh mereka sendiri terhadap nomor yang bersangkutan. Sebagai contoh, ada yang mengatakan bahwa nomer 1 ’menandakan’ akan menjadi nomer 1, nomer 2 mudah diingat (dari mana ingatannya??), nomer 3 adalah nomer yang akan meneruskan, dsb. Nomor urut kemudian menjadi symbol, karena adanya hubungan kausalitas antara kenyataan dengan ke-sebab-an yang ada dalam pikiran para interpretants tersebut. Terlepas hasil akhirnya nanti, menarik sebenarnya untuk disimak bahkan kalo ada yang mau menelitinya, apakah semiotika nomor urut tersebut berpengaruh pada elektabilitas (saya baru saja belajar mengenai kata ini) para capres.

Sekiranya sekian dulu, terima kasih sudah membacanya.

Comments (1) »

Sebuah renungan tentang kesuskesan

Salam,

 

Ini kutipan dari milis yang saya ikuti. Tulisan yang bagus. Kayak lagi membaca tulisannya Gede Prama, sangat inspiratif dan membuat kita menjadi bertanya-tanya sendiri, apakah definisi kita tentang suskes? jabatan kah, harta kah atau seberapa banyak orang yang sudah terbantu oleh keberadaan kita? Sekiranya pembaca bisa meninggalkan kesan di postingan ini saya sangat berterima kasih. Enjoy!

——————————————————————————————————————————————–

 

Sebuah Renungan tentang KESUKSESAN


Sukses itu sederhana, Sukses tidak ada hubungan dengan menjadi kaya raya, Sukses itu tidak serumit/serahasia seperti kata kiyosaki / tung desem waringin / the secret, sukses itu tidak perlu dikejar,SUKSES adalah ANDA ! karena kesuksesan terbesar ada pada diri Anda sendiri….

Bagaimana Anda tercipta dari pertarungan jutaan sperma untuk membuahi 1 ovum, itu adalah sukses pertama Anda!

Bagaimana Anda bisa lahir dengan anggota tubuh sempurna tanpa cacat, itulah kesuksesan Anda kedua…

Ketika Anda ke sekolah bahkan bisa menikmati studi S1, di saat tiap menit ada 10 siswa drop out karena tidak mampu bayar SPP,

itulah sukses Anda ketiga…

Ketika Anda bisa bekerja di perusahaan bilangan segitiga emas, di saat 46 juta orang menjadi pengangguran, itulah kesuksesan Anda keempat…

Ketika Anda masih bisa makan tiga kali sehari, di saat ada 3 juta orang mati kelaparan setiap bulannya itulah kesuksesan Anda yang kelima…

Sukses terjadi setiap hari, Namun Anda tidak pernah menyadarinya. ..

Saya sangat tersentuh ketika menonton film Click! yg dibintangi Adam Sandler, “Family comes first”, begitu kata2 terakhir kepada anaknya sebelum dia  meninggal…

Saking sibuknya Si Adam Sandler ini mengejar kesuksesan, ia sampai tidak sempat meluangkan waktu untuk anak & istrinya, bahkan tidak sempat menghadiri hari pemakaman ayahnya sendiri, keluarga nya pun berantakan,istrinya yang cantik menceraikannya, anaknya jadi ngga kenal siapa ayahnya…

Sukses selalu dibiaskan oleh penulis buku laris supaya bukunya bisa terus2an jadi best seller dengan membuat sukses menjadi hal yg rumit dan sukar didapatkan.. .

Sukses tidak melulu soal harta, rumah mewah, mobil sport, jam Rolex, pension muda, menjadi pengusaha, punya kolam renang/helikopter, punya istri cantik seperti Donald Trump & resort mewah di Karibia…

Tapi buat saya pribadi yang bisa hidup dengan sangat berkecukupan, saya rasa sukses memiliki arti yang berbeda…

Sukses adalah mencintai & bangga terhadap diri Anda sendiri, mengerjakan apa yang Anda sukai kapan saja dan di mana saja….

Sukses sejati adalah hidup dengan penuh syukur atas segala rahmat Tuhan, sukses yang sejati adalah menikmati & bersyukur atas setiap detik kehidupan Anda,pada saat Anda gembira, Anda gembira sepenuhnya, sedangkan pada saat Anda sedih, Anda sedih sepenuhnya, setelah itu Anda sudah harus bersiap lagi menghadapi episode baru lagi.

Sukses sejati adalah hidup benar di jalan Allah, hidup baik, tidak menipu, apalagi menjadi pribadi yang jujur, ikhlas & selalu rendah hati, Sukses itu tidak lagi menginginkan kekayaan ketimbang kemiskinan, tidak lagi menginginkan kesembuhan ketimbang sakit, sukses sejati adalah bisa menerima sepenuhnya kelebihan,keadaan, dan kekurangan Anda apa adanya dengan penuh syukur.

Saya berani berbicara seperti ini, karena hidup yang saya alami ini seperti roda pedati, ketika masih mahasiswa hidup begitu nelangsa cuma mampu makan warteg 1 kali sehari dengan nasi setengah+sayur gratis+ tempe goreng.

Tapi ternyata dulu nikmat makan di warteg kok sama saja bila dibandingkan ketika saya makan di restoran mewah di Amerika,

Saya pernah tidur di kolong langit, beralaskan tanah & terpal, hujan kehujanan, & panas kepanasan. Tapi ternyata lelapnya saya tidur dulu kok bisa sama saja bila dibandingkan ketika saya tidur di hotel bintang 5 di Jepang,

Saya dulu, pulang-pergi ke sekolah jalan kaki atau bersepeda sejauh 40km, pakai baju lusuh, tas kotor & alat tulis seadanya, datang ke sekolah selalu menjadi bahan tertawaan teman2 yg lebih kaya, tapi kok sama saja enaknya ketika saya dijemput oom saya naik mercy, sama2 nyampe juga ternyata, Mas…

Saya pernah diundang boss saya ke rumah barunya, untuk menikmati ruang auditoriumnya, ada speaker untuk karaoke, ada untuk mendengarkan musik, ada untuk home theater, dia bilang speaker Thiel-nya untuk mendengarkan musik saja seharga 400 juta, saya disuruh ngedengerin waktu beliau putar musik jazz, memang enak sekali, suara dentingan gelas & petikan bass bisa terdengar jelas,tapi kok setengah jam di situ, saya toh bosan juga, Mas…..

Sama saja nikmatnya mendengarkan musik di computer sendiri, yg speakernya cuma Simbadda 100 rb…

Pernahkah Anda menyadari?

Anda sebenarnya tidak membeli suatu barang dengan uang. Uang hanyalah alat tukar, Anda sebenarnya membeli rumah dari waktu

Anda. Ya, Anda mungkin harus kerja siang malam utk bayar KPR selama 15 tahun atau beli mobil/motor kredit selama 3 tahun.

Itu semua sebenarnya Anda dapatkan dari membarter waktu Anda, Anda menjual waktu Anda dari pagi hingga malam kepada penawar tertinggi untuk mendapatkan uang supaya bisa beli makanan, pulsa telepon dll…

Aset terbesar Anda bukanlah rumah/mobil Anda, tapi diri Anda sendiri, Itu sebabnya mengapa orang pintar bisa digaji puluhan kali lipat dari orang bodoh…

Semakin berharga diri Anda,semakin mahal orang mau membeli waktu Anda…

Itu sebabnya kenapa harga 2 jam-nya Kiyosaki bicara ngalor ngidul di seminar bisa dibayar 200 juta atau harga 2 jam seminar Pak Tung bisa mencapai 100 juta!!!

Itu sebabnya kenapa Nike berani membayar Tiger Woods & Michael Jordan sebesar 200 juta dollar,hanya untuk memakai produk Nike. Suatu produk bermerk menjadi mahal/berharga bukan karena merk-nya, tapi karena produk tsb dipakai oleh siapa…

Itu sebabnya bola basket bekas dipakai Michael Jordan diperebutkan, bisa terjual 80 juta dollar, sedangkan bola basket bekas dengan merk sama, bila kita jual harganya justru malah turun….

 

Hidup ini kok lucu,kita seperti mengejar fatamorgana, bila dilihat dari jauh, mungkin kita melihat air / emas di kejauhan, namun ketika kita kejar dng segenap tenaga kita & akhirnya kita sampai, yang kita lihat yah cuman pantulan sinar matahari/corn flakes saja oh…ternyata. ..

 

Lucu bila setelah Anda membaca tulisan di atas Namun Anda masih mengejar fatamorgana tsb ketimbang menghabiskan waktu Anda yg sangat berharga untuk sungkem sama orangtua yg begitu mencintai Anda, memeluk hangat istri/kekasih Anda, mengatakan “I love you” kepada orang-orang yang anda cintai : orang tua, istri, anak, sahabat-sahabat Anda.

Lakukanlah ini selagi Anda masih punya waktu, selagi Anda masih sempat, Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan meninggal, mungkin besok pagi, mungkin nanti malam,


LIFE is so SHORT.

Leave a comment »

Kebohongan Publik; Etika atau Moral?

Saat ini perubahan arus informasi menyebabkan orientasi masyarakat terhadap kualitas pengalaman berkomunikasi semakin berekstensif baik secara meluas (kuantitas) maupun mendalam (kualitas). Ekstensifikasi yang menyangkut baik kesadaran kumulatif maupun personal dalam unit masyarakat berimbas pula pada komposisi dari ruang dimana informasi mampu berputar dan tumbuh. Hampir setiap hari kita berdiskursus pada kondisi komunikasi ini, kondisi yang disebut sebagai ruang publik. Mungkin beberapa dari kita sudah sering mendengar bahkan bagi mereka yang sehari-harinya berhubungan dengan media istilah ini tentu sudah tidak asing lagi.

Perputaran baik diskusi, debat ataupun sekedar obrolan yang menyangkut kepentingan publik sebenarnya adalah hal sehari-hari yang selalu dilakukan manusia sebagai bagian dari masyarakat atau bisa disebut sebagai publik. Seminar di kampus, obrolan beberapa orang pembeli di pasar tentang naiknya harga kebutuhan pokok, sms dan telepon interaktif di televisi mengenai masalah tertentu atau tulisan seorang redaktur atau pemimpin redaksi pada tajuk surat kabarnya merupakan sekelumit dari banyak contoh aplikasi pada ruang publik. Pada kondisi-kondisi tersebut yang membedakannya dari informasi pribadi adalah sifat informasinya yang umum dan memuat kepentingan orang banyak.

Karena sifatnya yang umum inilah masyarakat banyak menyalahgunakan atau menyalahartikan makna (meaning) dari informasi-informasi yang berkembang dan bercampur aduk di dalam kawah informasi ini. Dalam ilmu komunikasi dikenal istilah distorsi/gangguan dalam proses komunikasi massa, dimana dimungkinkannya terjadi penyerapan yang kurang optimal akibat terseleksinya muatan informasi yang mampu untuk sampai dan diteruskan, disini media memegang peranan karena biasanya unsur distorsi/gangguan terdapat pada unsur komunikasi ini.

Akibat dari gangguan informasi ini bermacam-macam salah satunya adalah terjadinya miskomunikasi. Kondisi miskomunikasi dimungkinkan jika pada unsur si penyerap pesan atau biasanya jika hal ini berkaitan dengan media massa maka dapat kita misalkan dengan sebutan sebagai pembaca, pendengar atau pemirsa tidak dapat mengerti arti dan makna dari pesan yang disampaikan atau setidaknya telah terjadi perubahan persepsi dari kondisi yang seharusnya di respon (feedback) oleh sang penerima pesan. Pesan yang meleset dari apa yang diharapkan ini dapat berbentuk sebagian ataupun keseluruhan dari bentuk pesan.

Sedangkan, penyebab dari munculnya gangguan di dalam proses transfer pesan ini bisa dilihat dari banyak sudut pandang pemikiran. Jika beberapa waktu yang lalu seorang senior saya menulis di surat kabar ini (Lampung Post) tentang kecenderungan perubahan orientasi berbicara masyarakat dari konteks tingkat tinggi menjadi konteks yang lebih rendah mungkin pendapat ini diambil dari pandangan analis struktural. Tetapi pada kesempatan ini penulis akan berangkat dari pandangan posmoderinitas tentang ruang publik.

Dalam pandangan posmodernisme, media dipandang sebagai bagian dari mesin-mesin teror (machines of terror) yang mensuplai kesadaran tak berdasar atau palsu (pseudo-conscienceness) ke benak audience melalui informasi-informasi tanpa klasifikasi (undefinite information). Informasi yang berputar menyebabkan terpaan yang tidak lagi bisa dibilang murni seperti apa yang selalu diasumsikan ahli komunikasi massa 40 tahun yang lalu, dalam pandangan ini teori bahwa media adalah wajah masyarakat tidak lagi bisa digunakan. Media bukanlah wajah tetapi topeng yang menutupi semua yang ada di wajah masyarakat.

Dalam konteks ini perubahan orientasi cara berbicara masyarakat tidak dipandang sebagai perubahan peningkatan (graduallity) tetapi pergeseran kemauan menjadi sesuatu makna yang lebih dangkal (banality of meaning). Dalam suatu perkuliahan, saya pernah menanyakan mahasiswa saya, kenapa lebih sering digunakan kata ‘event’ dibandingkan ‘activity’, si mahasiswa tidak menjawabnya dengan penjelasan secara akademis, walaupun dia tahu itu yang diharapkan oleh dosen dan peserta perkuliahan. Tetapi, yang dijawabnya adalah bahwa kata ‘event’ lebih enak terdengar di telinga dibandingkan kata ‘activity’. Saya tanya kembali, sesederhana itu? Mahasiswa itu hanya menjawab ‘ya’. Saya tidak menyalahkan mahasiswa itu.

Di dalam kehidupan sehari-hari, kesederhanaan seperti itulah yang terjadi. Kadang-kadang kita tidak pernah berpikir apakah tata bahasa yang kita gunakan sudah benar apa belum, tetapi apa yang sekedar enak terucap dan bisa ditangkap cepat oleh lawan bicara. Kedangkalan makna sengaja diciptakan justru untuk mempermudah komunikasi, posisi semantik sebagai denotasi dari makna menjadi hilang, sedangkan yang tinggal hanya konotasi-konotasi. Roland Barthes mungkin akan menyebutnya sebagai mitos (myth) dimana simulasi kenyataan tidak bisa lagi dibedakan batasnya, apa yang mesti dipercayai dan mana yang tidak. Tetapi penulis mungkin hanya akan menyebutnya sebagai gosip (gossip), sesedehana itu?, ‘ya’.

Jika ini bisa terjadi pada tingkat personel maka hal ini juga bisa terjadi pada tingkat mediasi sebagai bagian yang berada diantara dua personel dalam proses komunikasi yaitu antara pengirim dan penerima pesan. Bagaimana kesederhanaan tersebut bisa ada di media? Media adalah topeng masyarakat, tentu ia harus mengikuti bentuk wajah masyarakatnya. Karena tanpa topeng yang pas, sang wajah akan dengan mudah mencari topeng yang lain dan ini berarti media tersebut akan mati. Bagaimana jika ada informasi yang tidak benar, apakah media berbohong? Tidak secara institusi, tetapi itulah yang disebut sebagai kebohongan publik.

Kebohongan Publik

Mengikuti perkembangan diskursus yang banyak dipengaruhi unsur politik, masyarakat kemudian mengenal sebuah istilah publik yang berkaitan dengan validitas dari kebenaran informasi yang ada didalam ruang publik, istilah yang disebut sebagai kebohongan publik. Istilah kebohongan publik umumnya dipakai jika masyarakat merasa bahwa hak masyarakat untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat tersebut ternyata mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan apa yang ada (exist) di kenyataannya atau apa yang diharapkan untuk ada (exist). Ketidaksesuaian ini tentunya akan menimbulkan masalah, apalagi jika ternyata informasi yang miskomunikasi tersebut mengakibatkan hancurnya eksistensi baik sebagian maupun keseluruhan unsur dari masyarakat tersebut.

Dalam karya awalnya, Strukturwandel der Oeffentlichkeit (Perubahan Struktur Ruang Publik), Juergen Habermas menjelaskan suatu istilah yang merupakan salah satu bentuk baru dari berbagai tipe ruang publik, yaitu ruang publik politis (Budi Hardiman; 2004). Menurut Habermas, ruang publik politis dapat diartikan sebagai kondisi-kondisi komunikasi yang memungkinkan warga negara membentuk opini dan kehendak bersama secara diskursif. Pertanyaannya sekarang, kondisi-kondisi manakah yang diacu oleh Habermas?

Pertama, partisipasi dalam komunikasi politis itu hanya mungkin jika kita menggunakan bahasa yang sama dengan semantik dan logika yang konsisten digunakan. Semua warga negara yang mampu berkomunikasi dapat berpartisipasi di dalam ruang publik politis itu. Kedua, semua partisipan dalam ruang publik politis memiliki peluang yang sama dalam mencapai suatu konsensus yang setara dan memperlakukan mitra komunikasinya sebagai pribadi otonom yang mampu bertanggung jawab dan bukanlah sebagai alat yang di pakai untuk tujuan-tujuan di luar mereka.

Ketiga, harus ada aturan bersama yang melindungi proses komunikasi dari represi dan diskriminasi sehingga partisipan dapat memastikan bahwa konsensus dicapai hanya lewat argumen yang lebih baik. Singkatnya, ruang publik politis harus “inklusif”, “egaliter” dan “bebas tekanan”. Kita dapat menambah ciri-ciri lain seperti pluralisme, multikulturalisme, toleransi, dan seterusnya. Ciri ini sesuai dengan konsep kepublikan itu sendiri, yaitu dapat dimasuki oleh siapa pun.

            Dimanakah pusat dari ruang inklusif, egaliter, dan bebas tekanan itu di dalam masyarakat majemuk? Jika kita, seperti analisis habermas, membayangkan masyarakat kompleks dewasa ini sebagai tiga komponen besar, yaitu sistem ekonomi pasar (kapitalisme), sistem birokrasi (negara), dan solidaritas sosial (masyarakat), lokus ruang publik politis terletak pada komponen solidaritas sosial. Dia harus dibayangkan sebagai suatu ruang otonom yang membedakan diri baik dari pasar maupun negara.

Dalam era globalisasi pasar dan informasi dewasa ini, sulitlah membayangkan adanya forum atau panggung komunikasi politis yang bebas dari pengaruh pasar maupun negara. Kebanyakan seminar, diskusi publik, demontrasi, dan seterusnya didanai, difasilitasi, dan diformat oleh kekuatan finansial besar, entah kekuatan bisnis, partai, atau organisasi internasional dan seterusnya. Hampir tdak ada lagi lokus netral dari kekuatan ekonomi dan politik.

            Dalam negara hukum demokratis, ruang publik politis sebagai sistem alarm dengan sensor peka yang menjangkau seluruh masyarakat. Pertama. Ia menerima dan merumuskan situasi problem sosio-politis. Melampaui itu, kedua, ia juga menjadi mediator antara keanekaragaman gaya hidup dan orientasi nilai dalam masyarakat di satu pihak dan sistem politik serta sistem ekonomi di lain pihak. Kita bisa membayangkan ruang publik politis sebagai struktur  intermedier di antara masyarakat, negara, dan ekonomi.

Organisasi-organisasi sosial berbasis agama, LSM, perhimpunan cendikiawan, paguyuban etnis, kelompok solidaritas, gerakan inisiatif warga, dan masih banyak yang lainnya di dalam ruang publik politis memberikan isyarat problem mereka agar dapat dikelola oleh negara. Ruang publik berfungsi baik secara politis jika secara “transparan” memantulkan kembali persoalan yang dihadapi langsung oleh yang terkena.

Transparansi itu hanya mungkin jika ruang publik tersebut otonom dihadapan kuasa birokrasi dan kuasa bisnis. Tuntutan normatif ini tentu sulit didamaikan dengan fakta bahwa media elektronik dan media cetak di mayarakat kita kerap menghadapi dilema yang tak mudah dihadapan tekanan politis maupun pemilik modal. Namun, itu tak berarti bahwa pelaku ruang publik menyerah saja pada imperatif pasar dan birokrasi. Jika tidak terpenuhi tuntutan normatifnya, ruang publik hanya akan menjadi perluasan pasar dan negara belaka.

            Tanpa mengurangi kondisi dilema yang dihadapi dan keberadaan posisi media apakah berada antara etika atau moral. Kebohongan atau ketidaksesuaian informasi sangat dimungkinkan didalam ruang publik politis. Dalam wadah ini, interpretasi adalah kunci pintu masuk dari banyak jalan kesadaran. Pemblokiran informasi (blocking), pemutarbalikkan data (twisting) atau penyangkalan (denialing) adalah hal yang umum akan ditemui sebagai konsekuensi dari euforia yang ada. Jadi di mana letak kebohongan publik di tengah banjir informasi yang tengah melanda kita?

Di ujung spektrum yang satu, kebohongan kepada publik merupakan alternatif informasi untuk tujuan politik semata. Tidak ada yang dirugikan, dan tidak ada yang tersinggung. Bila pejabat atau wakil rakyat memilih bergenit-genit dengan kebohongan seperti ini, maka pada gilirannya nanti wajar bila dia akan kehilangan konstituen. Di ujung spektrum lainnya, kebohongan publik bisa berakibat pelanggaran pasal-pasal pidana. Apalagi kalau kepentingan publik menjadi taruhannya. Dalam kaitan ini, kebohongan semacam ini patut menjadikan pelakunya diseret ke hadapan meja hijau.

Antara Etika dan Moral

Sebenarnya agak sulit untuk menjawab dimanakah letak kesalahan dari suatu kebohongan publik, apakah pada sisi etika atau moral? Atau keduanya? Hal ini dikarenakan jawaban dari pertanyaan tersebut harus dikembalikan pada masing-masing kasus yang akan diamati, hal apakah yang berpengaruh di dalam kebohongan publik tersebut. Tetapi yang bisa kita lakukan khususnya penulis sebagai seorang akademisi adalah menunjukan dimana landasan dari penentuan apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan menurut etika dan moral yang ada di masyarakat tanpa pretensi untuk menjustifikasi apapun.

Karena pengejawantahannya di praktek kehidupan bermasyarakat pun, perselisihan pendapat mengenai apa yang pantas dan tidak pantas dalam diskursus ruang publik sering kali merupakan konsumsi yang hanya memutar-mutar fokus pendapat antara etika dan moral (Baggini: 2003). Perdebatan ini mencerminkan perbedaan mendasar dalam pemikiran tentang etika, yaitu antara mereka yang melihat pusat gravitasi moral dalam tingkah laku kehidupan pribadi dan mereka yang melihat moralitas berpusat dalam di dunia publik, dimana perilaku kita berpengaruh pada perilaku atau persepsi orang lain.

Tentu saja, tak satu pun yang memandang moralitas sepenuhnya berurusan dengan tingkah laku pribadi atau sepenuhnya berkaitan dengan perilaku publik secara langsung. Namun kita sering melihat bahwa perbedaan di dalam penekanan sudut pandang mempunyai peranan yang penting di dalam memutuskan suatu persoalan publik.  Mengurai isu-isu moral merupakan tugas yang sulit dan tanpa akhir, tetapi setidaknya isu-isu tersebut akan mendasarkan pada pada dua pertanyaan utama yaitu; pertama, isu privasi, apakah pihak-pihak yang terlibat di dalam isu-isu moral tersebut memiliki hak untuk merahasiakan kehidupan pribadi mereka atau apakah publik berhak mengetahuinya?

Lalu kedua, isu akuntabilitas, apakah pihak-pihak yang berkaitan dengan isu-isu moral tersebut punya hak untuk bertingkah laku sesuai kehendak mereka sendiri di dalam kehidupan pribadi mereka, tanpa mempengaruhi hak mereka dalam bekerja dan untuk tetap dipekerjakan ataukah publik berhak memutuskan apakah mereka berperilaku pantas atau tidak? Orang mungkin akan memberikan jawaban yang berbeda pada kedua pertanyaan tersebut, misalnya, seseorang mungkin percaya bahwa kita berhak tahu segalanya tentang seorang wakil rakyat, namun kita tidak punya hak untuk menurunkannya dari jabatan publik sebagai konsekuensi tindakannya.

Disini, yang harus menjadi perhatian utama adalah pembedaan antara etika dan moral, kita sering mempertukarkan kedua istilah itu. Etika adalah studi tentang perilaku manusia, bukan apa yang sesungguhnya dilakukan orang, namun apa yang seharusnya mereka lakukan. ‘Keharusan’ ini dapat terdiri atas beberapa jenis. Menurut Kant, ‘keharusan’ etika selalu keharusan yang absolut atau ‘kategoris’. Kita harus melakukan ini atau itu karena itulah tuntutan moral. Namun ‘keharusan’ bisa juga bersyarat, misalnya, kita harus melakukan ini atau itu jika kita ingin menjalani kehidupan secara penuh.

Moralitas dapat dilihat sebagai bagian dari etika. Norma moral adalah seperangkat peraturan yang menentukan bagaimana seharusnya kita berperilaku, dengan implikasi bahwa melakukan sebaliknya adalah salah, karena mungkin membahayakan diri sendiri atau orang lain. Oleh sebab itu, moralitas selalu memiliki aturan yang bisa dimengerti dan bersifat memaksa, sementara etika tidak memerlukan. Dengan cara ini, etika Kant menyediakan norma moral, sedangkan Aristoteles tidak.

Salah satu pembedaan penting dalam etika adalah batas antara wilayah etika publik atau privat. Apa yang kita masukkan dalam wilayah privat bermacam-macam. Sebagian orang memandang bahwa kehidupan pribadi mereka hanya melibatkan diri mereka sendiri sementara lainnya akan memasukkan dalam lingkup lebih luas dengan mengikutsertakan teman-teman dan keluarga. Sampai manapun batasannya, seharusnya ada kecenderungan alamiah untuk mempertimbangkan bagian mana dari hidup kita yang merupakan urusan pribadi belaka dan lainnya sebagai urusan publik yang sah.

Pertimbangan tersebut didasarkan pada kata kunci perilaku manusia yaitu hak dan kebebasan. Ide tentang hak dan kebebasan sangat dekat pertautannya; untuk mengatakan saya bebas melakukan sesuatu sama dengan mengatakan saya punya hak melakukan sesuatu itu bebas dari intervensi. Hak mendasarkan kita untuk menentukan tingkah laku mana yang merupakan sepenuhnya milik pribadi individu masing-masing dan kebebasan membantu kita untuk menjalankannya tanpa gangguan dari pihak lain. Inilah yang disebut sebagai wilayah privasi seseorang.

Akan tetapi ada kalanya hak dan kebebasan itu tidak hadir demi dirinya sendiri. Konflik akan ditemui jika hak dan kebebasan tersebut mulai menemui hak dan kebebasan yang lainnya, terlebih jika menyangkut pada kepentingan orang banyak. Kita boleh berbicara sesuka kita tentang dampak positif dan negatif dari kenaikan harga BBM tetapi jika kita kemudian menggunakan media massa dan kemudian mengundang respon orang banyak, maka itu akan menjadi lain persoalannya. Kita sudah tidak lagi berbicara dalam batas privasi tetapi sudah berdisposisi dalam area ruang publik.

Kalau begitu, apa yang menjadi landasan bagi suatu hak? Julian Baggini (Making Sense; 2003) mengemukakan tiga argumen mengenai hal ini. Pertama, hak privasi dapat dikesampingkan oleh kebutuhan untuk mengabdi kepada kebaikan publik yang lebih luas. Seorang pejabat negara harus rela mempunyai jam kerja yang lebih panjang dibandingkan pegawai biasa dikarenakan publik menghendaki bahwa pejabat yang bersangkutan harus selalu siap jika publik memerlukannya. Kedua, hak privasi seseorang dapat dikesampingkan demi kebaikan diri orang itu sendiri. Seorang wakil rakyat wajib mengumumkan kekayaan pribadinya di hadapan publik, dengan ini publik dapat mengontrol apakah wakil rakyat yang bersangkutan tersangkut dugaan korupsi atau tidak jika sewaktu-waktu muncul kasus korupsi APBD.

Ketiga, seseorang kehilangan hak privasinya jika apa yang mereka lakukan dalam kehidupan pribadinya salah. Contoh yang paling sering kita lihat adalah kasus perceraian selebritis, dimana di dalam moral masyarakat, hal tersebut masih merupakan perbuatan yang tak patut. Karena ketidakpatutannya, seringkali media memberitakannya secara besar-besaran dengan anggapan bahwa publik adalah pihak yang paling berkepentingan dan berhak tahu segala sesuatunya. Ketiga argumen di atas adalah beberapa diantara banyak argumen lainnya.

Landasan hak tersebut membantu kita untuk melahirkan suatu posisi tertentu dalam berperilaku atau apa yang diperkenalkan oleh Aristoteles lebih dari dua millenium yang lalu, yaitu karakter (character). Menurut pandangannya, menjadi orang yang baik atau buruk (ingat bahwa ini bukan pengertian moral dalam arti sempit) dibentuk oleh kebiasaan dan aspek-aspek dari karakter yang kita latih. Sebagai contoh, jika kita ingin bisa menikmati hubungan yang saling percaya dan terbuka, kita harus mau mulai menanamkan sifat tersebut di dalam kebiasaan kita.

Di dalam masyarakat bebas, orang hanya dapat dihukum karena berkelakuan buruk yang menyebabkan kerugian signifikan pada orang lain. Pada saat kita mulai menghukum orang karena karakter mereka, kita mulai beroperasi sebagai ‘polisi pikiran’ dengan semua konotasi negatif yang dimungkinkan. Bagaimanapun, untuk jabatan publik tertentu, karakter mungkin menentukan. Jika seorang pemuka agama, misalnya, ternyata tidak jujur, hal tersebut tentu saja tidak relevan dengan berbagai penilaian tentang kepatutannya sehubungan dengan posisinya di dalam kepentingan publik. Begitu juga dengan posisi seorang hakim atau penegak hukum jika berada pada posisi yang sama.

Media sangat tertarik pada kehidupan pribadi orang-orang terkenal dan acapkali mengungkap kejatuhan mereka dan menyuruh mereka agar mengundurkan diri, dipecat, atau menyatakan permintaan maaf secara publik karena hal tersebut. Dalam pengertian ini, mereka mengangkat diri sebagai pelindung moral masyarakat. Namun apakah mereka dibenarkan untuk melakukan hal ini?

Dalam penilaian penulis sendiri, untuk sebagian besar, mereka tidak dibenarkan. Misalkan dalam suatu kasus ketika para pejabat publik terlibat, kecuali mereka menyebabkan kerugian serius terhadap orang lain, kita sebagai masyarakat atau publik sangat diharapkan untuk mengambil kepentingan dan mengetahui aspek-aspek kehidupan pribadi mereka. Keingintahuan tersebut diarahkan untuk memberikan sorotan yang signifikan pada bagian-bagian karakter mereka yang relevan dengan kepantasan mereka atas jabatan publik. Tapi hal ini tidak berarti kita berhak tahu tentang semua kesalahan sepanjang hidup mereka. Secara khusus, dengan siapa mereka makan malam atau bermain tenis bukan urusan para pemilih dan media sudah sepatutnya menghormati wilayah privasi seseorang.

Jika hal ini kemudian kita kembalikan pada pengertian dari kebohongan publik yaitu adanya ketidak sesuaian informasi, apakah suatu kasus yang melibatkan pejabat publik seperti Bupati atau anggota DPRD bisa dikatakan sebagai kebohongan publik? Melihat unsur yang terkandung di dalam pelaksanaannya, penulis bisa mengatakan bahwa jika suatu kasus yang melibatkan pejabat publik dan ternyata menghasilkan informasi yang berbeda dari yang selama ini di mengerti oleh publik, maka kasus tersebut bisa dikatakan sebagai kebohongan publik.

Oleh karena itu, kebohongan publik tidak hanya menyangkut kebijakan per seorangan. Sebuah kebijakan publik yang melibatkan banyak wakil rakyat sebagai pejabat publik, yang ternyata didasari pada ketidaksesuaian antara informasi yang ada dan kenyataan di lapangan maka kebijakan tersebut dapat dikatakan sebagai suatu kebohongan publik. Contoh yang paling sering terjadi di Indonesia adalah kasus korupsi APBD, dimana kemudian diketahui bahwa memang sudah ada niatan dari pejabat publik yang bersangkutan untuk menutup atau memodifikasi informasi yang seharusnya diketahui masyarakat dengan harapan memperoleh keuntungan pribadi. Maka, APBD sebagai suatu kebijakan publik akan di nilai kembali untuk dirinya sendiri apakah benar atau tidak.

Persoalannya kemudian apakah hal ini termasuk pelanggaran atau tidak dari segi etika dan moral? Jika kebohongan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan dari kinerja pejabat publik yang bersangkutan dalam kaitannya dengan kepentingan publik, maka kebohongan tersebut adalah tidak benar secara etika dan masyarakat bisa menilainya melalui koreksi secara etika pula. Tetapi jika kemudian kebohongan tersebut melibatkan karakter pejabat publik dimana berhubungan erat dengan posisi pejabat yang bersangkutan dalam hal melaksanakan moralitas yang berlaku di masyarakat. Bahwa kepatutan moral pejabat publik adalah cermin dari kepatutan yang berlaku di masyarakat, maka kasus tersebut berada di dalam wilayah moralitas dan masyarakat sudah sepantasnya menghukum yang bersangkutan dari sisi moralitas pula.

Di sini peran media untuk menyeimbangkan informasi dan menggiring publik ke arah yang seharusnya antara etika dan moral menjadi sangat penting. Peran ruang publik politis menjadi di ambil alih oleh peran media sebagai representasinya. Hanya saja yang perlu diingat adalah bahwa konflik kepentingan akan sangat mudah sekali ditemui oleh media dan orang-orang yang bergerak di dalamnya. Untuk itu, media sepantasnya sudah mengerti batasan etika dan moral yang diketengahkan di dalam kasus yang akan sorot publik.

Bukan sebaliknya, bahwa media justru membuat justifikasi batasan etika dan moralnya sendiri dan memaksa wajah masyarakat untuk berpaling ke arah yang dikehendaki. Jika ini terjadi, maka kita akan kembali lagi pada kebohongan publik yang ada di media. Secara institusi media tidak salah dalam pengertian media mempunyai etikanya sendiri kecuali jika miskomunikasi ini disebabkan kegagalan per seorangan yang kemudian diketahui bertentangan dengan kode etik yang dipercayai institusi media tersebut. Tetapi secara moralitas, media tersebut tidak lagi merupakan representasi dari wajah masyarakat, di sini kepercayaan yang menjadi taruhannya.

Membahas mengenai kebohongan publik apalagi jika dikaitkan dengan wilayah normatif antara etika dan moral memang tidak akan ada habisnya. Diskursus yang akan meruncing memang masih jauh dari apa yang diharapkan, tetapi setidaknya tulisan ini sudah memberikan suatu penyegaran pada ingatan masyarakat bahwa sebagai suatu wajah, masyarakat mempunyai hak dan kebebasannya sendiri dan media mempunyai peran yang penting dalam mengarahkan pandangan yang ada.

Meski di dalam era posmodernisme saat ini, media hanya dipandang sebagai topeng yang memiliki seribu rupa dengan ketakutan (terror) atas kedangkalan makna yang mungkin terjadi. Tetapi pada kenyataannya masyarakat tetap tidak bisa bergeming dari terpaan media. Kita tetap tidak bisa berangkat kerja tanpa terlebih dahulu membaca koran dan minum kopi.

Comments (2) »

Kastil abad ke-13

Salam,

Ini mungkin kedengarannya tidak terlalu ada hubungannya dengan kepustakaan digital atau social network atau lainnya tapi buat saya ini seperti sebuah rangkaian makna yang akhirnya terungkap berurutan yang sebelumnya hanya terjuktaposisi. Ini tentang chateau de sanem, selama hampir 3 bulan ini saya tinggal di kartil ini sebagai bagian dari riset saya tentang european navigator, katil yang juga kantor dari CVCE ini memang unik dan buat saya ini adalah salah satu pengalaman yang tidak akan terlupakan. Selama tinggal di kastil ini saya merasa cukup nyaman, setidaknya kamar yang hangat dan dapur yang lengkap dengan peralatan terbaru termasuk mesin pembuat minuman (vending machine), berapa dari kita yang punya itu di dapurnya? saya kira tidak banyak kecuali kita berjualan atau buka toko kelontong tentunya he..he..he..

Anyway, the bulding is terlihat sangat unik dan penuh dengan ruangan2 yang misterius, yup! misterius.. dari luar sepertinya kastil ini hanya terdiri dari 3 lantai dengan 1 lantai bawah tanah tetapi sesungguhnya kastil ini punya 6 lantai! saya baru tahu setelah berusaha menelusuri ruangan-ruangan di dalamnya. Beberapa ruangan terproteksi dengan pemindai sidik jari termasuk ruang server sehingga tidak mungkin saya masuki karena saya tidak diberi otoritas penuh tetapi selain ruangan2 superketat itu ada ruangan2 lain yang tersembunyi seperti lantai ke-2 dari basement dimana terlihat sekali pondasi dari batu2 besar dan beberapa terowongan gelap (aduh jadi inget uji nyali…) tapi saya putuskan untuk tidak terus menelusurinya, bukannya takut tetapi ada sesuatu di benak saya yang bilang, jangan diteruskan… selain itu setelah lantai ke-3 di tower utara ternyata ada lantai tambahan yang terdiri dari 3 kamar, 2 diantaranya terkunci dan bau sumpek terasa sekali mungkin kamar2 itu sudah lama tidak digunakan.

Awalnya saya tidak tahu berapa lama umur kastil yang saya tempati, dugaan saya mungkin dari abad ke 17 melihat umur kedua lukisan yang ada di ruang utama kastil. Saya terkejut, sewaktu makan malam di Carpini tadi malam, restoran italia lokal yang frutti de mare nya tidak lebih enak dari apa yang biasa saya hangatkan di microwave, rekan saya, seorang sejarahwan, cerita tentang sejarah kastil tersebut. Kastil Sanem berasal dari abad ke-13 dilihat dari pondasi awal dari kastil, rupanya sudah ada orang yang meneliti kastil ini, tetapi selama 3 abad diabaikan hingga sebuah keluarga merenovasi dan meluaskan kastil tersebut di abad ke-16. Mendengar cerita rekan saya lebih jauh lagi, saya seperti terbawa ke mimpi masa lalu, mimpi yang hanya bisa saya bayangkan lewat film2 abad pertengahan. Kastil tersebut telah beberapa kali bertahan melewati perang2 di eropa termasuk perang dunia ke 2 dimana nazi menggunakannya sebagai benteng pertahanan.

Wow, setelah makan malam saya pulang ke kastil dengan makna baru, dan suddenly, kastil ini terlihat berbeda di mata saya, ini menjelaskan banyaknya suara asing terdengar di waktu malam, beberapa tanda yang asosiasi nya sulit saya terjemahkan, symbol2 yang saya tidak mengerti, tiba2 saya merinding…

 

054

Leave a comment »

ENA, Information Ecosystem, and Web Science

Salam,

 

Saya sudah di Luxembourg! in fact sejak hari pertama kedatangan saya sudah sangat disibukkan dengan diskusi, tugas-tugas, dan konferensi.  Minggu lalu saya baru saja menghadiri the Seventh World Wide Forum on Education and Culture, konferensinya sangat menarik, banyak isu-isu terdepan di bidang pendidikan dan budaya yang diketengahkan oleh praktisi dan pakar dari 26 negara, yang menarik adalah saya adalah satu-satunya peserta dari Indonesia (dimana yang lain, hello mendiknas, dikti??… ada orang??) dari Malaysia saja ada sekitar 6 pemakalah dan seperti yang sudah diduga US mendominasi setiap session. And Rome.. Rome adalah kota yang sangat indah.. setiap sudut mempunyai signified-nya sendiri (I took the idea from Sue Myburgh regarding Bologna, pretty much the same…).

 

Di CVCE saat ini saya sedang berkutat dengan ide untuk memetakan information ecosystem untuk the European Navigator (http://www.ena.lu), saya baru saja mendengar istilah info eco ini dari Frederic Andres, supervisor saya in CVCE. Information ecosystem sangat menarik untuk dikaji terutama jika dikaitkan dengan web ecology, tidak saja karena web ecology adalah istilah baru yang banyak didengungkan pengkaji web science tetapi juga secara konsep masih baru, jadi masih banyak kesempatan dan peluang untuk menjelajahi konsep ini secara keilmuan. Sejauh ini pengertian saya mengenai shema information ecosystem setidaknya harus bisa menggambarkan 5 hal:

1.  Service flow,

2. Information and knowledge flow

3. Information lifecycle

4. Karakteristik dari sistem (equilibrium, associative/cybernet, wholeness)

5. In addition, material and value flow (information value chain)

Selain itu tips tambahan adalah KISS (Keep It Simple Stupid!) and leave ‘creativity’ to the bad designer, ini sangat penting, atas nama usability!

 

Point penting yang saya ingin cantumkan juga dalah mengenai Web Science sebagai cabang ilmu baru, tidak lain dari seorang Tim Berners-Lee sendiri mensupport dari berdirinya cabang ilmu ini. Saya sendiri masih menunggu perkembangan selanjutnya terutama mengenai epistimilogy dari ilmu ini, saya masih belum melihat Web Science telah memenuhi kriteria untuk dianggap sebagai ilmu terpisah dari cabang ilmu lain seperti information science misalnya, atau internet studies. Melihat perkembangan dari gerakan beberapa ilmuwan (again from US!) selama 3 tahun terakhir mengenai Web Science , workshop mereka di awal tahun ini, dan konferensi pertama Web Science di Athena, Yunani Maret 2009  yang akan datang saya kira kita akan melihat kristalisasinya dalam 3-4 tahun ke depan apakah semantic atau web 3.0 akan melahirkan studi tersendiri atau web science berhasil mengadopsinya sebagai bagian dari kajian mereka.

 

 

Riza

Leave a comment »