Posts tagged computer mediated communication

Materi Matakuliah Perkembangan Teknologi Komunikasi

Materi ini untuk perkuliahan pada semester Ganjil 2012/2013 di Jur. Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Lampung.

Media dalam tinjauan pertekom

Web 2.0 dan social software

Pengantar pada Komunikasi-termediasi-komputer

Media ownership & media ideology

 

Iklan

Leave a comment »

Pengantar pada Komunikasi-termediasi-komputer

Salam Damai,

 

Berikut adalah materi dari kuliah saya mengenai computer-mediated communication (CMC). Saya menggunakan terjemahan saya sendiri untuk istilah CMC menjadi komunikasi-termediasi-komputer. Penggunaan tanda sambung (-) dimaksudkan bahwa istilah termediasi dan komputer adalah satu bagian utuh dari istilah komunikasi yang mengawalinya. Saya tahu, istilah ini masih banyak yang bisa diperdebatkan karena saya bukan ahli bahasa. Tetapi point yang ingin saya sampaikan adalah adopsi dari CMC seharusnya sudah masuk ke dalam kurikulum Ilmu Komunikasi di Indonesia. Pada materi pengantar ini memang bahasa yang saya gunakan masih 90% English. Tanpa pretensi untuk mis-interpretasi, saya mencoba mengenalkan istilah-istilah termasuk teori-teori dalam CMC masih dalam bahasan aslinya. Dalam perkuliahan saya sudah jelaskan dan artikan maksud dari bahasan tersebut. Saya kira ini tantangan khususnya bagi mahasiswa yang mengikuti perkuliahan saya untuk mencoba menggali lebih dalam lagi.

 

Sebagai sebuah bahasan yang telah mendapat perhatian khusus dari para ahli komunikasi internasional terutama seiring perkembangan teknologi komunikasi, mempelajari CMC menuntut keterbukaan pikiran kita untuk melampaui batasan dari tingkatan komunikasi. Sekali lagi saya ingatkan, tingkatan komunikasi adalah imajiner yang digunakan ahli komunikasi untuk mempermudah kita membedakan dan mempelajari komunikasi dari manusia, selebihnya tidak ada lagi (klaim ini mungkin terlalu tendensius..). Anyway, dengan materi ini saya harap dapat mengenalkan anda pada bahasan ini lebih dekat lagi. Enjoy!

Pengantar pada Komunikasi-termediasi-komputer

 

Leave a comment »

Google Wave at first sight

Salam Damai,

Dua hari lalu saya menjadi satu diantara 100.000 orang yang diundang Google untuk menjadi tester Beta version dari Google wave. Undangan itu menclok di inbox saya dengan tulisan ‘Your invitation to preview Google Wave’ dan link ke versi test dari Google wave di dalamnya. Mungkin diantara pembaca ada juga yang mendapat undangan ini. Tulisan ini adalah pendapat saya pribadi mengenai Google wave dan tidak mencerminkan pendapat dari keseluruhan sampel. Sebelum mencoba aplikasi terbaru dari Google ini saya mencoba mencari tahu dulu ulasan dari blogs terkenal seperti readwriteweb, tujuannnya supaya saya yakin bahwa link yang dikirim ini bukan spyware atau hoax. Setelah yakin dan mendapat kesan pertama dari berbagai ulasan yang ada di internet saya kemudian mencobanya.

Pendapat saya akan berfokus pada aspek computer-mediated communication dan apakah Google wave bisa dikategorikan sebagai groupware atau social software. Sebagai awalan saya menganalisa tiga kolom yang digunakan pada main interface. Kolom paling kiri mempunyai fitur-fitur yang sama dengan kolom kiri Gmail, kolom tengah adalah email atau ‘wave’ anda, dan kolom paling kanan adalah isi dari wave yang anda klik. Kesan pertama saya bahwa Google wave bukanlah sebuah aplikasi email biasa. Mengapa saya katakan demikian? Google wave bisa disebut sebagai aplikasi email karena tampilannya yang hanya mengetengahkan satu main interface seperti email pada umumnya. Tetapi berbeda dengan aplikasi GoogleDocs. Google wave lebih berfokus pada kerja email dibandingkan lembar kerja (worksheet). Pada prinsipnya, menurut saya Google wave hanyalah protocol email yang dipersingkat sehingga model interaksi dapat lebih ringkas dan cepat. Untuk ini, kesan saya bahwa Google wave menawarkan kinerja interaksi yang lebih baik dari email biasa.

Pada inbox dari versi beta tersebut ada beberapa email yang sudah dikirimkan oleh pihak Google, salah satunya adalah multimedia email dengan video dan interactive petunjuk penggunaan Google wave. Video-video tersebut cukup membantu saya dalam memahami bagaimana menggunakan Google. Fasilitas unggulan yang ditawarkan oleh Google wave adalah meningkatkan kinerja kolaboratif real-time. Argumen saya berdasarkan contoh yang mereka berikan. Seperti penulisan kolaboratif dimana setiap anggota atau teman yang anda undang dapat mengedit email yang anda ciptakan, ini yang mereka sebut sebagai wave. Sebagai contoh, anda ingin membuat sebuah kegiatan piknik keluar kota dan anda mengundang teman-teman anda untuk sumbang saran mengenai tempat yang bagus untuk dikunjungi. Anda bisa memulai wave dari anda sendiri dengan menambahkan teman-teman anda yang anda bisa seleksi. Yang cukup menarik adalah anda harus menciptakan icon anda sendiri, seperti menciptakan profile buat facebook anda dan selanjutnya icon tersebut akan muncul disetiap wave.

Fitur yang menarik perhatian saya jelas kolom paling kanan dimana adalah perubahan besar dari menulis email biasanya. Wave sudah dilengkapi kemampuan memainkan pesan audio dengan adanya control mute sound di features bar diatas wave content. Selain itu, untuk lebih menyatukan dengan Google information ecosystem yang sudah ada. Pada features bar itu juga sudah dilengkapi dengan tombol Google maps, widget, dan URL gadget. Jadi tidak hanya video yang bisa di embed, aplikasi juga bisa di embed ke dalam wave. Berbeda dengan email biasa dimana transaksi bisa diperbarui dengan tidak me-reply email lama. Pada wave, diharapkan pengguna untuk tetap menggunakan satu wave untuk satu kegiatan. Ada kelebihan dan kekurangannya menurut saya, kelebihannya bahwa kita bisa mempunyai kendali yang lebih terhadap hal yang kita shared di dalam wave tersebut. Tetapi kekurangannya, bahwa pada tingkat personal, wave tidak cocok untuk digunakan karena tidak lebih baik dari email biasa.

Dari perspektif computer-mediated communication (CMC) jelas Google wave adalah sebuah terobosan dari permasalahan yang selalu meliputi paradox sinkronis-asinkronis dari CMC. Sejak awal diciptakannya aplikasi komunikasi berbasis komunikasi, kita selalu terhambat dan mulai membeda-bedakan antara komunikasi yang langsung (sinkronis) dan tidak langsung (asinkronis). Tidak ada yang menapik bahwa email adalah aplikasi internet yang paling ‘killer’ dan penggunaannya paling banyak hingga saat ini. Para penggiat internet terus berjuang menciptakan ‘the next app killer’ pengganti email, tetapi usah itu seperti bertepuk sebelah tangan, dengan cepat hilang ditelan waktu. Saya melihat Google wave adalah usaha Google untuk mencoba menjembatani apa arti sesungguhnya dari kerja kolaboratif dengan menggunakan computer. Bahkan saya bisa mengatakan bahwa apa yang diimplikasikan dari Google wave adalah sebuah usaha untuk memberikan makna baru dari kata komunikasi termediasi computer (computer-mediated communication).

Penelitian saya pada perilaku pengguna European Navigator menemukan bahwa users cenderung menggunakan moda CMC sinkronis dan asinkronis secara terpisah. Misalnya, mereka mengirimkan email yang berisi materi yang hendak mereka kerjakan secara kolaboratif dan kemudian menggunakan skype untuk mengontak dan atau mengkonfirmasi temannya secara langsung mengenai materi yang hendak dikerjakan. Jadi ada urutan disini. Pada Google wave saya lihat ada sedikit peningkatan (leveraged) kemampuan kerja kolaboratif. Wave yang kita ciptakan ada kemungkinan berinterkasi secara tertunda (delayed) tetapi jika dilakukan secara real time malah akan mendukung performa kita lebih baik lagi. Tetapi saya melihat masih adanya kemungkinan users untuk tetap menggunakan cara konvensional untuk berkomunikasi walaupun mereka telah bekerja dengan menggunakan Google wave. Unvcertainty adalah factor utama mengapa kita melakukan komunikasi. Kita berkomunikasi sehingga kita dapat mengurangi ketidakpastian dan kesimpangsiuran informasi yang kita miliki. Terlebih lagi, kita berkomunikasi untuk mengafirmasi ke-eksistensi-an kita.

Di Google wave pilihan untuk tetap mempertahankan status quo dari uncertainty tetap ada. Walaupun canggih, saya melihat Google wave akan segera hilang jika bersaing dengan aplikasi semantic web yang mulai bermunculan. Terlebih lagi, bagi Negara berkembang seperti Indonesia dimana 70% pengguna internetnya complain terhadap kecepatan akses internet mereka, maka untuk menciptakan kondisi ideal dari real-time collaborative seperti yang diinginkan oleh Google wave tetap saja akan menemui tantangan bandwith dan kemampuan computer penerima untuk mengolah data. Saya tidak mengerti mengapa tester dari readwriteweb mengatakan bahwa ‘user experience’ (EX) adalah masalah utama dari Google wave, tetapi saya juga tidak lebih bertentangan dengan mereka. Mungkin waktu penyesuaian dan model kolom yang lebih banyak telah mempersempit area kerja dibandingkan dengan menggunakan email biasa. Tetapi apa yang saya pahami mengenai EX yang terpenting adalah asumsi pengguna. Nah, jika kita bicara tentang perspesi pengguna berarti kita bicara mengenai interpretasi pengguna mengenai Google wave dalam hal ini semiotika telah bekerja sebagai point penting bagi pengembangan Google wave.

Tentu saja, point di atas adalah pendapat saya pribadi. Tetapi jika bukan saya saja yang berpikiran seperti itu, bukankah asumsi itu telah meninggalkan ranah subjektifitas dan menuju objektif? Mungkin saja. Lalu pada pertanyaan terakhir, apakah Google wave bisa dikategorikan groupware atau social software. Definisi saya mengenai social software tidak berubah, social software adalah aplikasi yang mendukung kinerja kelompok dan keberadaannya tidak bisa dilepaskan dengan model pengikutsertaan pengguna secara massive dan interactive. Sedangkan pengertian groupware menurut saya tidak berbeda dengan social software hanya saja groupware lebih menekankan factor kegunaan aplikasi bagi users dengan karakteristik dan tujuan tertentu. Sedangkan social software biasanya sudah men-set tujuan yang ingin diakomodasi dan mengharapkan users mengerti mengenai penggunaannya. Jika melihat definisi diatas, saya mengatakan bahwa Google wave bisa menjadi kategori baru dari social software dibandingkan groupware yang umumnya dibangun bagi kalangan tertentu. Pertama, Google wave adalah tersedia secara umum dan gratis. Kedua, Google wave menawarkan trans-aksi antar users sehingga memungkinkan untuk menciptakan inside application ata gadget tertentu. Disini fungsi Google wave telah berubah menjadi platform.

Saya kira cukup sekian, ulasan saya mengenai Google wave. Tidak banyak memang, karena itu masukan dari pembaca juga sangat saya harapkan. Tetapi yang terpenting menurut saya adalah ruang dan waktu. Hanya ruang dan waktulah yang dapat menentukan apakah Google wave dapat bertahan atau tidak. Kita lihat saja.

Comments (2) »

Towards Communication between Digital Library and Its User as Stakeholder—In a Nutshell

Berikut adalah essay saya tentang aspek komunikasi dari performa digital library dengan penggunanya. Mengapa saya menekankan pada aspek komunikasi lebih khusus lagi mengapa developer dari digital library perlu mengetahui siapa kah penggunanya dan bagaimana berkomunikasi dengan mereka adalah karena pada saat ini dan kedepannya perkembangan dari digital library ataupun perpustakaan secara umum sebagaimana yang diungkapkan Pomerantz (2007) lebih banyak ditentukan oleh keinginan pengguna. Pengaruh social software, trans-API, dan interkoneksi yang semakin cepat (the grid) adalah faktor-faktor yang akan menjadi dominan selain makin tingginya kebutuhan akan ruang (space) bagi manusia. Essay ini adalah preliminary study dari teori komunikasi nya secara keseluruhan tetapi di essay ini saya sudah mengajukan dua model yang bisa menjadi rujukan di dalam diskusi computer-mediated communication kedepannya, enjoy!

————————————————————————————-

————————————————————————————-

Ideology in practice always forms rationalizations in human activity including from human interaction with every day technologies. Habermas (1984) called that practice as a rationally motivated binding. This rationality encourages me to take deeper understanding how human mingled themselves with rapidness impact of technology. My interest in human-computer interaction and digital media met their eyes with my study about human resource management in digital library especially when it evolves how digital library as an institution interact, or in wider sense, communicate with their user. It is interesting indeed to quest such curiosity since arrays of web technologies are growing fast and digital library nonetheless taking place as an entity in this stream. Users for digital library must be seen as integral part of institution performance. They are inevitable (Podnar, 2006) as like customers to trading company, tourists for travel agency. Hence, users are no different with other stakeholders; as Freeman (in Ylaranta, 1999) emphasized that without support from stakeholder, an organization would cease to exist.

Internet changing communication between stakeholders (Van der Merwe, 2005) and advances of web technology such as library 2.0 have affects the way library interact with their users (Curran, 2007). In my perspective, the way digital library interacting with their user emerge new conception of how library communicate to their stakeholders in which users is part of them depsite binary of internal and external. This involveness not only put boundary in align between digital library and traditional ones but also have distinguish perfomance of organisational communication in each institution. One among other interesting part in this new concept is it counts mental model of user as factor that affects user behavior thus being projected into their series of action through digital library web interface. Sherman (in Riva, 2001) have discussed models such Reduced Social Cues and Hyperpersonal Communication as nature of computer-mediated communication and factors in cyberpsychology. He pinnings that those models enable researcher to define more accurate and complete personalities and characters of CMC users nevertheless defining who the users are.

Constraints

Indeed there are many things can be discuss and follows in this matters. However, this essay aims to bring clarity only to a small gap in between communication of digital library and its user as stakeholder and try to propose models that appears from the process thus some constraints need to be pins. First, this essay only focuses the discussion on communication aspect of digital library with its users although it also comparing the process with traditional library communication performance. Second, it presumes that policies and programs considerably align same process within each institution. Third, this essay does not attempt to take more deeply into negotiation of meaning and technical consideration which occurs within interface interaction.

For terminologies, I took definition of communication from Cannon (1980) as he defined communication in the context of system as “Transfer of meaningful information from one location (the sender, source, originator, or transmitter) to a second location (the destination or receiver).” Since this essay also counts mental model, I used Doyle and Ford ( in Westbrook, 2006) proposition as “a mental model of a dynamic system is a relatively enduring and accessible, but limited, internal conceptual representation of an external system whose structure maintains the perceived structure of that system,” Other limitations that must be consider are I did not attempt to relates the models that I proposed with implications of hybrid library even though that must be really interesting to bear with. Other thing is this essay required reader understanding of whether communication system or at least whether communication is. This essay is not for beginners.

A Model of Interaction

In Exhibit 1. I proposed characteristics of communication process between library and its user, which based on two things, first, my experienced dealing with both digital and traditional library performance such as searching, browsing, and retrieving, cataloging, and borrowing books. Second ones, I took Pomerantz (2007) conception of seeing digital library as place therefore affects how users as stakeholder accessing the library. In digital library, I found user communication characteristics are;

· Low Presence: user only ‘in touch’ with screen despite interactivity the website might offer.

· Mediated: electronic media as the communication channel plays its role to succeed message from user. There always ‘in between’ and ‘relays’ situation and lack of nonverbal communication.

· Action-Perception-Action: user apt to behave according to perception they gained. They are not react instead they create new action.

· Screen/website: boundary between user and library performance is the user’s screen and digital library website.

Further in comparison with traditional library, I found user communication characteristics are;

· High Presence: user feels the tangibility of library.

· Face-to-face/Direct: communication practices between librarian and the user being enrich with nonverbal capabilities such to express user emotion directly.

· Action-Reaction: more short causality since it has less medium and what user being follows are based on library action.

· Desk: boundary between user and library performance is the front line desk.

From that comparison we could see the line between user and library institution are screen or web interface in digital library and front desk in traditional library. Either institution is emphasis on narrow action of user as tip of iceberg of entire user behavior and characteristics. Particularly in digital library process, model of interaction showed that relation of action and perception of user emerge within user mind therefore it create singular process of communication between user and web interface. That singular conception opens the opportunity to be drawn the process into a model of communication.

A Model of Communication

I develop my conception from Grunig (1992) theory of two-way symmetrical communication among public relation and company stakeholders also Morsing (2006) findings on stakeholder involvement strategy, which proposed the role of sensegiving and sensemaking between company and its stakeholders communication process. They emphasized stakeholder involveness hence build pro-active relations with corporate programs nevertheless also build equal roles in communication between them. Thus, I finally drawn the communication process between digital library and its user as stakeholder in Exhibit 2. I proposes that communication process between user and web interface of digital library whom the user being their stakeholder consist of three interdependendently area, their part and action are;

1. The user-web interface side:

  • In the context of interaction between user and web interface in digital library, user shares their action to limited options of act that the website offered. For instance, when user search or browse from the digital library website, found the information and retrieved it, what user really done was determined by the series of choices whatsoever that the digital library developers has been designed. Even for digital library that have been implemented the concept of web 2.0 such as library blogs, instead of change it, when user give a comment about a digital library policy in that blogs, the user only eligible to give comment about the issue that blogs had.
  • From the web interface, user perceived and gain perceptions of the digital library, this perceptibility build the concept of digital library whom the user interact with. The concept been abstracted into mental model refers to the interaction of user with digital library web interface, nevertheless digital library as a whole.
  • The mental model being projects into user behavior outside user interaction with digital library interface such as promoting the digital library to his/her friends.
  • When the user using the digital library web interface again, the projected behavior will be narrows again to limited of action, so on and so forth.

2. The web interface and server side:

  • Users’ action that’s being recorded as data signal hence being encode and decode in developers server.
  • The possibility for noise disruption will emerge in this area as technical problems.

3. The digital library institution-web interface side:

  • Every data that have been collected from the digital library server is use as digital library developers input of information.
  • This input subsequently taking part in internal management process and can be use as database for policy decision. In this point, users’ action became feedback for developer side.
  • Developer or digital library as institution derives the feedback to become a new or updating policy to the public which are the users.
  • New policy is being codified through documentation and/or converted process therefore it fits the developers’ server protocol and eligibly to publish in digital library web interface, so on and so forth.

Conclusion

The model of interaction and communication between digital library and user as their stakeholder has showed us that there are possibilities to involve user in development of digital library. Web interface is the edge of digital library performance therefore having a better understanding how to develop the web interface will enable digital library institution to perform better service and quality in the future. Though the theoretical and conceptual basis’ for this matter is in developing process since evolves interdisciplinary from other field of science nevertheless this essay can be taken as preliminary study.

Comments (1) »