Posts tagged social networking site

Social Software untuk proses belajar mengajar di universitas (1)

Alhamdulillah, proposal riset dan presentasi ku di terima oleh panitia The World Wide Forum on Education and Culture yang diketuai Dr. Bruce Swaffield dari Regent University, US. Walaupun belum resmi mendaftar ulang (lagi nyari bantuan registration fee nih…) tapi gua udah memastikan tempat di Rome pada bulan Desember nanti, lumayan lah buat menaikkan angka kredit.

Ide dasar dari proposal gua sebenarnya sederhana saja, kalo di eropa, asia timur dan amerika utara mayoritas penduduknya udah gak gaptek lagi dengan namanya social software beda sekali dengan kondisi yang ada di negara-negara berkembang. Sewaktu pulang ke Indonesia bulan lalu gua kaget ternyata kondisi belajar-mengajar di Unila tidak mengalami perkembangan selama 2 tahun terakhir dalam pemanfaatan teknologi web malah cenderung stagnan, dan gua pikir universitas2 negeri lainnya di Indonesia juga tidak jauh berbeda. Dari situ gua melihat adanya permasalahan yaitu celah antara yang seharusnya (Das Sein) dan terlihat (Das Solen). Seharusnya proses belajar-mengajar di universitas sudah bisa memanfaatkan teknologi web dengan baik sesuai dengan program-program pemerintah khususnya Depdiknas seperti Inherent atau jardiknas, malah sudah digembar-gemborkan penggunaan BSE (Buku Sekolah Elektronik).  Tetapi pada kenyataannya (yang terlihat) belum seperti itu, infrastruktur yang tidak mumpuni ditambah dengan maintanance yang belum memenuhi standar membuat aplikasi web untuk belajar-mengajar di universitas belum banyak berkembang.

Berkembangnya teknologi web 2.0 dan social software sebagai salah satu terapannya telah mempengaruhi banyak bidang salah satunya adalah pada proses belajar-mengajar. Implementasi dari penggunaan social software untuk menunjang pendidikan telah banyak dan sangat diketahui (well known) di negara-negara maju, semakin cepatnya tingkat koneksi internet, banyaknya pembangunan infrastruktur, dan tarif murah adalah salah satu faktor pendorong dari pemanfaatan teknologi ini. Spitzberg (2006) menunjukkan data bahwa antara tahun 2000 dan 2005 internet telah tumbuh 160% di seluruh dunia—di Amerika Utara sendiri, 68% dari total populasinya adalah penguna internet yang juga merupakan seperempat dari total pengguna internet dunia (internet world stats, 2005). Penelitian oleh Wahid (2007) menemukan bahwa tarif internet yang mahal, koneksi yang rendah, dan lemahnya kemampuan berbahasa inggris adalah faktor-faktor teratas dari rendahnya adopsi internet di Indonesia. Walaupun secara kuantitatif, jumlah pengguna internet di Indonesia termasuk tinggi, yaitu sekitar 20 juta pengguna tetapi secara kualitatif masih tergolong rendah yaitu hanya berkisar 8,9% dari jumlah penduduk indonesia (coba bandingkan dengan data Amerika Utara di atas).

Melihat kondisi global dan nasional tersebut, maka saya mengajukan ide untuk memulai suatu diskusi yang melibatkan dunia internasional dalam melihat peluang pemanfaatan social software dalam proses belajar-mengajar. Kita mungkin sudah familiar dengan memanfaatkan learning environment system atau digital library dalam membantu pendidikan di kelas. Pemanfaatan social software tidak jauh berbeda dengan kedua institusi tersebut terutama dengan menekankan faktor mash-up bahwa guru dan siswa adalah stakeholder yang mempunyai peran sama dalam mengembangkan bahan ajar.

Iklan

Comments (2) »

Penceritaan kembali: Social Software in Libraries (Meredith G. Farkas)

”We know more than we can say

We say more than we can write”

–Michael Koenig, spring in Tallinn 2008

Mempelajari pengetahuan tidak berarti apa-apa jika kita tidak mengekpresikan apa yang kita ketahui ke dalam kata-kata. Dalam diskusi kita mengenal diri kita lebih baik tetapi dalam tulisanlah kita mengetahui siapa diri kita sebenarnya. Tidak semua orang adalah pujangga akan tetapi semua orang adalah pencerita yang baik, dan menulis adalah tidak lain dari cara lain untuk bercerita. However, saya bukan pujangga tapi saya kira saya bisa jadi pencerita yang baik. Karena itu, saya akan berusaha menceritakan kembali apa-apa yang sudah saya ketahui dan baca. Penceritaan kembali, saya lebih suka menyebutnya begitu, karena mungkin apa yang saya tulis terlalu informal untuk dikatakan resensi atau kurang intelek untuk menjadi sebuah review.

Saya bukan berasal dari pustakawan, tetapi mempelajari ilmu kepustakawanan saat ini tidak ada bedanya dengan mempelajari teknik informasi atau ilmu informasi karena pada akar ilmunya memang tidak jauh berbeda. Saat ini, pustakawan harus peka terhadap teknologi internet khususnya web technology, tanpa dukungan teknologi tersebut pustakawan akan semakin ditinggalkan para penggunanya karena para pengguna tersebut sudah lebih dahulu mengadaptasi perkembangan yang ada. Untuk itu, saya merekomendasi buku dari Meredith Farkas ini kepada anda. Sangat berguna bagi perpustakaan-perpustakaan yang berusah menerapkan teknologi library 2.0.

Mengutip Tom Coates, Farkas mendefinisikan sosial software sebagai software yang mendukung, memperluas atau menghasilkan suatu nilai tambah dari perilaku sosial manusia melalui fitur-fitur seperti papan pesan, pesan singkat, aplikasi untuk berbagi selera musik, foto, miling lists, jejaring sosial. Social software mempunyai karakteristik setidaknya dua dari tiga point berikut ini:

a. Aplikasi tersebut mempersilahkan orang untuk saling berkomunikasi, berkolaborasi, dan membangun komunitas online.

b. Aplikasi tersebut dapat disindikasi atau memfasilitasi sindikasi, diperbagikan, digunakan kembali, atau digabungkan.

c. Aplikasi tersebut memudahkan orang untuk belajar dan menekankan pada perilaku atau pengetahuan dari yang lainnya.

Lebih lanjut Farkas memaparkan manfaat blogging bagi kepustakawanan saat ini dan kedepannya serta tips-tips menerapkan blog yang baik bagi perpustakaan. Selain blog, fitur-fitur web 2.0 lain yang dipaparkan Farkas antara lain RSS, wikis, online communities, social networking, social bookmarking and collaborative filtering, podcast, vodcast, hingga gaming. Keunggulan dari buku ini menurut saya terletak pada contoh-contoh yang diberikan Farkas, pembaca disajikan sejumlah referensi situs sehingga mengerti bagaimana tampilan sesungguhnya dari pemanfaatan teknologi ini. Jika anda menganggap buku ini adalah buku teknik seperti buku-buku pemrograman anda dipastikan keliru karena tidak ada penjelasan teknik atau uraian bahasa pemrograman sama sekali di dalam buku ini. Farkas mempunyai latar belakang sebagai pustakawan karena itu buku ini mempunyai perspektif pustakawan dalam penulisannya.

Mari kita memfokuskan pada pemanfaatan situs jejaring social bagi perpustakaan. Farkas berpendapat bahwa seseorang menggunakan situs jejaring social untuk menampilkan identitas dan jaringan sosial yang mereka miliki dan membangun hubungan yang baru berdasarkan hal tersebut. Farkas merunut proposisi nya tersebut kembali ke pertengahan tahun 60-an ketika Stanley Milgram bereksperimen untuk menentukan struktur dari jejaring sosial manusia. Farkas kemudian membagi tipe situs jejaring sosial menjadi 4 yaitu; social networking untuk generasi X (mereka yang lahir pasca 1970-an), social networking untuk Millenials (yaitu mereka yang lahir pasca 1990-an), social networking untuk bisnis, dan mobile social networking. Farkas menekankan bahwa pemanfaatan situs jejaring social lebih mengarah pada suatu perilaku yang lebih mengedepankan penciptaan identitas di dalam sebuah komunitas dibandingkan sebuah kolaborasi untuk tujuan tertentu.

MySpace dan Facebook adalah dua situs jejaring social yang banyak direferensikan oleh Farkas untuk para pustakawan. Tidak hanya untuk menampilkan profil perpustakaan atau dirinya sendiri, Farkas menunjukkan manfaat lain dari situs jejaring social antara lain untuk riset pasar dan membangun komunitas online dengan para pengguna (patrons). Perlu digarisbawahi, bahwa perpustakaan atau pustakawan sendiri tidak cukup hanya menampilkan profil, lebih dari itu, mereka harus berkomitmen untuk terus menerus meng-up date informasi yang ada. Kata kunci dari kesuksesan pemanfaatan situs jejaring social bagi perpustakaan dan atau pustakawan adalah ”keep coming back” (tetap kembali), maksudnya adalah situs jejaring social harus mampu menarik para pengguna untuk terus menerus mengunjungi profil perpustakaan atau pustakawan, membangun hubungan yang baik dan berimbas pada peningkatan performa dari perpustakaan atau pustakawan itu sendiri. Hal ini bisa dicapai dengan mempersilahkan pengguna untuk berkomentar, memberikan masukan, berita, informasi bahkan daftar buku yang selayaknya dikoleksi perpustakaan.

Leave a comment »

Google to launch Friend Connect for the social Web

Ini adalah kutipan dari blog Dan Farber di cnet news.com (10/05/08), seperti yang sudah saya katakan dalam posting saya tentang opensocial bahwa goggle akan memprakarsai global trans-API maka dengan di launch nya Friend Connect langkah tersebut semakin dekat untuk terealisasi. Saat saya menulis post ini facebook dan myspace sudah memulai trans-API tersebut, facebook dengan ‘facebook connect’ dan myspace dengan ‘data avalaibility’ nya. Anyway, enjoy!

————————————————————————————–

Google is expected to join the social network data portability crowd with “Friend Connect” on Monday. TechCrunch speculates that Friend Connect will be a set of “APIs for Open Social participants to pull profile information from social networks into third party websites.”

Google will join Facebook and MySpace, which launched ways to port user data to partner sites this week. Facebook Connect will provide the hooks to let users port their friends, profile photos, events, and other data across the Web to partner sites. MySpace on Thursday announced Data Availability, with Yahoo, eBay, Photobucket, and Twitter as initial partners for its effort to let members port their data.

Yahoo is partnering with the leading social networks so its users can take advantage of the freeing of user data, and it will also be crafting its own social network and APIs as part of its forthcoming Yahoo Open Strategy.

TechCrunch’s Mike Arrington reasons:

The reason these companies are are rushing to get products out the door is because whoever is a player in this space is likely to control user data over the long run. If users don’t have to put profile and friend information into multiple sites, they will gravitate towards one site that they identify with, and then allow other sites to access that data. The desire to own user identities over the long run is also causing the big Internet companies, in my opinion, to rush to become OpenID issuers (but not relying parties).

With 70 million users, more than 20,000 Facebook applications, and about 350,000 developers, Facebook has a major scale advantage over Google’s Orkut. MySpace has the advantage of an even larger user base, but lags Facebook on the developer and application fronts.

However, Google has been taking a more open and distributed approach with its OpenSocial API, which allows compliant applications to work across any social network. By extension, Friend Connect would provide glue to allow any site to add a social dimension and build connections to other social networks.

I spoke with David Glazer, Google director of engineering, in March about injecting the social graph and data portability into the core fabric of the Web. He said the big challenge isn’t the technology but applying existing and emerging standards, such as OATH (secure API authentication), OpenID (identity management) and OpenSocial APIs (application integration).

The key for all the data portability efforts (check out the DataPortability Project) is that users have granular controls to manage their data and to maintain privacy and security. Facebook and MySpace have not fully disclosed how their privacy controls will work yet. Stay tuned for more details on Google’s Friend Connect and the next chapter of “The Making of the Social Web.”

 

Leave a comment »

Benarkah Indonesia Peringkat 7 Dalam Mengakses Situs Porno?

Menyimak berita yang ditayangkan salah satu televisi swasta di tanah air beberapa hari yang lalu (09/04/2008) tentang survey yang dilakukan salah satu website traffic researcher bahwa Indonesia menduduki peringkat nomor tujuh di dunia dalam mengakses situs porno membuat hati saya (penulis) terhenyak. Pertama, bahwa data 2 tahun lalu yang dijadikan rujukan tersebut kemunculannya bertepatan dengan mulai digalakkannya program pemerintah untuk memblokir akses situs porno di indonesia. Kedua, penulis membayangkan bagaimana reaksi pemirsa televisi setelah mendengar berita itu. Saya membayangkan para alim ulama akan mempunyai satu tambahan referensi alasan lagi. Seratus buat para guru, dan seribu alasan bagi orang tua di Indonesia untuk mulai peduli akan bahaya penyalahgunaan web (web abuse) terhadap anak-anak mereka. Ketiga, sebagai seorang akademisi, muncul rasa keingintahuan penulis terhadap data survey tersebut, apakah informasi tersebut benar adanya dan konteks apakah yang dibawa oleh informasi tersebut. Terlebih dalam pemberitaan tersebut, efek pengkotak-kotakan sangat terlihat sekali.

Kebetulan penulis sudah familiar dengan website yang memuat data tersebut, karena memang banyak dijadikan referensi penggiat IT internasional untuk data-data yang berkaitan dengan perkembangan dan trend web. Setelah mengakses dan melakukan pencarian, informasi yang penulis dapat lebih mengejutkan lagi. Hasil survey menunjukkan bahwa pemberitaan oleh televisi swasta tersebut keluar dari referensi keseluruhan data. Pemberitaan tersebut memotong satu bagian dari rentetan informasi yang ada. Untuk itu penulis merasa perlu untuk menjelaskan sehingga masyarakat akan dapat mempunyai gambaran utuh dari kondisi yang ada, tidak dipermainkan oleh pemberitaan yang sepertinya hanya ingin menguntungkan pemerintah dan mungkin salah satu penyedia perangkat lunak (software provider).

Data survey antara tahun 2005 dan 2006 tersebut dilakukan terhadap lebih dari 10.000 sumber, ditambah dengan statistik pencarian menggunakan mesin pencari (search engine) terhadap dua puluh kata kunci. Hasilnya? Sepanjang 2005-2006, setiap detiknya 28.258 orang mengakses sekitar 420 juta halaman situs porno. Setiap detiknya, 372 pengguna internet memasukkan kata kunci yang berhubungan dengan seksualitas pada mesin pencari. Setiap 39 menit, satu video porno di produksi di US. US?? Yap, Amerika Serikat (AS), dan data survey tidak berhenti disitu. China dan Korea Selatan adalah dua negara teratas yang paling banyak mendapat pemasukan (revenues) dari pornografi, keduanya pada tahun 2006 memperoleh US$ 53,13 milyar atau 488,796 triliun rupiah, lebih besar 5 triliun dari target pendapatan non-migas APBN RI tahun 2008.

Kembali ke posisi AS, data menunjukkan bahwa AS adalah negara produsen situs porno terbesar di dunia dengan jumlah 245 juta halaman web situs porno, jauh sekali dari Jerman (10 juta halaman) dan Inggris (8,5 juta halaman) yang berada dibawahnya. Survey ini banyak menampilkan data pasar situs porno di AS, karena memang sebenarnya survey ini ditujukan bagi pasar Amerika. Lalu, kenapa nama Indonesia tiba-tiba keluar? Seperti yang telah disebutkan diatas, survey ini diperkaya dengan statistik pengguna internet, dan nama Indonesia muncul pada urutan ke tujuh dalam survey untuk kata kunci “sex”. Selain kata itu, masih ada 19 tabel lagi yang memperlihatkan nama negara-negara pengakses dengan pencarian menggunakan kata kunci lainnya. Negara-negara tersebut antara lain Afrika Selatan (No. 1) untuk kata kunci ”porn”, dan Bolivia (No.1) untuk kata kunci ”xxx”. Selebihnya, di dominasi oleh negara-negara eropa barat. Perlu digarisbawahi bahwa tabel peringkat tersebut mengeluarkan AS dari objek survey, jadi hasil peringkat yang dilansir sebenarnya tidak murni berupa urutan negara, lebih merupakan kecenderungan. Apakah warga negara asing (WNA) yang mengakses situs dari alamat IP (Internet Protokol) Indonesia bisa dianggap mewakili Indonesia sebagai negara?

Penulis setuju dengan perspektif pemerintah bahwa apapun hasilnya, munculnya nama Indonesia pada survey tersebut adalah hal yang memprihatinkan. Sangat disayangkan pula bahwa 80% dari negara-negara yang masuk dalam tabel peringkat yang sama dengan Indonesia adalah negara yang dihuni mayoritas muslim. Tetapi penulis lebih menyayangkan pengkotakan (framing) dari pemberitaan televisi swasta tersebut. Pembaca berita menggunakan redaksi ”…Indonesia tercatat berada di peringkat tujuh pengakses situs porno tertinggi di dunia…”, ini adalah pernyataan yang menyesatkan karena data survey yang dirujuk tidak menunjukkan informasi apapun tentang negara pengakses situs porno tertinggi, yang ada hanya untuk 20 kata kunci dari ratusan kosakata bahasa inggris lainnya. Kalimat redaksi itu juga memberikan kesan bahwa moral remaja Indonesia sudah mencapai taraf kesakitan yang patut diamputasi, seolah remaja harus hidup tanpa seksualitas.

Penyalahgunaan teknologi web (harus dibedakan antara internet dan web) adalah termasuk isu yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan para pengamat web diseluruh dunia selain perubahan iklim global dan kemiskinan. Minggu lalu penulis mendapatkan laporan hasil penelitian Ofcomm, lembaga riset media berkedudukan di London, Inggris, tentang perilaku, tindakan, dan penggunaan situs pertemanan (social networking site) seperti MySpace, Facebook, Friendster, Hi5, dan lain-lain oleh remaja di Inggris. Survey ini dilakukan antara Juni hingga Desember 2007 dan dipublikasikan tanggal 2 April yang lalu. Hasilnya? 49% anak berumur 8 – 17 tahun di Inggris mempunyai profile di situs pertemanan, dan 65% dari orang tua anak-anak tersebut tidak menetapkan aturan dalam menggunakan situs pertemanan. Point penting dari penelitian tersebut adalah adanya kecenderungan penyalahgunaan web yang mengarah eksploitasi seksualitas pengguna situs pertemanan dengan anak-anak (8-17 tahun) sebagai kelompok umur yang paling rawan terkena penyalahgunaan ini.

Kalau pemerintah mau berinisiatif memblokir pornografi di internet seharusnya mereka ikut waspada terhadap sektor ini dan mau mengikuti perkembangan isu yang ada dibandingkan dengan menggunakan data survey 2 tahun yang lalu. Perkembangan web selalu berubah bahkan dalam hitungan minggu, adalah sebuah kesalahan logika jika menganggap suatu kondisi akan selalu sama dan statis apalagi jika berkaitan dengan teknologi web. Pendangkalan makna dengan menggunakan data penelitian untuk menjustifikasi tujuan-tujuan seharusnya menjadi pilihan terakhir pemerintah, masih banyak alternatif yang bisa digunakan untuk memperbesar efek dari suatu kebijakan publik. Dalam kerangkanya, penulis melihat bahwa penggunaan sepenggalan data survey situs porno oleh pemerintah dan dipersempit lagi oleh kekuatan penyiaran adalah masalah etika media yang seharusnya pemerintah berada pada posisi penengah, bukan ikut-ikutan menjadi pelaku. Kalau begini, menurut penulis, siaran berita televisi swasta tersebut tidak ada bedanya dengan film Fitna buatan Geert Wilders, keduanya sama-sama memanipulasi teks, memotong ruang dan waktu dengan tujuan menciptakan kesadaran realitas yang baru, sebuah horor realitas.

Penulis masih percaya bahwa remaja Indonesia adalah remaja yang bertanggung jawab, remaja yang tahu betul apa arti teknologi dan pandai menggunakannya untuk kepentingan yang lebih baik, bagi diri, masyarakat, dan bangsanya. Penggalan berita yang menampilkan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI sedang menyampaikan interpretasi ”…jadi, mengakunya kepada ibunya mau belajar bersama, padahal nonton pornogra.. apa? materi pornografi, apa video atau apa…” adalah efek pengkotakkan (framing) berita yang memberi kesan degradasi moral. Pemberian kesan jangan percaya lagi setiap anak anda mengakses web, atau mau belajar bersama dengan menggunakan internet, dan siaran berita itu telah sukses menciptakannya. Penulis yakin sebagian besar pemirsa telah membeli makna yang ditawarkan berita tersebut, dan salut buat pemirsa yang bisa mengkritisinya.

Sekedar gambaran kasar pengguna internet di Lampung jika mengambil pembagian keseluruhan pengguna internet di Indonesia tahun 2007 sebesar 20 juta pengguna (internetworldstats, akses 11/04/2008) dengan 33 provinsi dan memperhitungkan pertumbuhan pengguna internet di kota-kota besar, maka estimasi penulis bahwa di Lampung terdapat tiga hingga empat ratus ribu pengguna. Perkiraan ini berupa pengguna komersial dan non-komersial dan tidak memperhitungkan pengguna potensial. Jika dari populasi yang ada diasumsikan saja 5% dari pengguna (kemungkinan lebih besar dari ini jika mengingat banyaknya anak sekolah di warnet-warnet sehabis jam sekolah) adalah mereka yang berumur 8 hingga 17 tahun, maka setidaknya ada 15 hingga 20 ribu pengguna web usia sekolah setiap harinya di seluruh Lampung. Ini adalah kelompok yang rawan terkena dampak dari penyalahgunaan web, alih-alih pembatasan dari menggunakan internet.

Menjelang saat-saat pilkada seperti ini, fokus media lebih cenderung mengarahkan pembaca untuk lebih menyimak politik praktis dan sedikit meninggalkan sisi edukasi masyarakat. Tulisan ini hanya bermaksud sebagai penyegaran dan intermezzo dari percakapan. Bahwa selain naiknya harga-harga kebutuhan pokok dan apa mendukung siapa, para orang tua masih mempunyai anak-anak yang setiap harinya rawan terhadap penyalahgunaan teknologi. Kasus video porno PNS beberapa bulan yang lalu adalah contohnya. Orang tua dan keluarga adalah gerbang pertama dari usaha penangkalan penyalahgunaan teknologi tersebut dengan ikut memberikan pendidikan, selain sekolah tentunya. Tetapi untuk bisa memberikan pendidikan yang benar, orang tua dan sekolah harus mendapat informasi yang benar dahulu tentang manfaat dan kemanfaatan teknologi, terlebih teknologi web. Membaca, mendengar, dan menyimak informasi yang menyesatkan dapat menimbulkan reaksi yang keliru dan menyebar luas (efek kupu-kupu/butterfly effect).

Comments (2) »

The Age of Grid, Topic Map, and blocking youtube

Salam,

Kemarin, CERN (singkatan aslinya dalam french, dalam english European Center for Nuclear Research) yaitu lembaga riset eropa berpusat di Geneva yang melahirkan world wide web (WWW), baru saja mengumumkan perkembangan generasi baru, in my sense, dari teknologi web yang mereka sebut sebagai The Grid. The Grid diproyeksikan akan mempunyai kecepatan 10.000 kali lebih cepat dari teknologi web yang kita miliki sekarang. Kapasitas 27 km superkonduktor LHC yang dimiliki The Grid mampu mengalirkan data hingga hampir 1 Tb (terabyte) per detik serta mengolah informasi yang sama kapasitasnya dengan 56 juta keping CD, sekedar gambaran kalau kita susun satu per satu CD tersebut maka akan selesai sekitar 60 km kemudian, itu sama saja dengan menyusun CD tersebut dari Tugu Gajah Bandar Lampung hingga Kalianda, Lampung Selatan!

Dalam simulasi yang mereka contohkan, pengguna The Grid bisa mengirimkan 1 koleksi lengkap album Rolling Stone dari geneva ke tokyo dalam waktu 2 detik, atau 5 detik bagi 1 film HD DVD. Selain itu, studi kasus yang telah mereka laksanakan juga telah membantu dunia kedokteran menganalisa korelasi kompleks 140 juta sampel malaria, penyakit yang membunuh 1 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya. Suatu analisa yang baru akan selesai 420 tahun lagi jika para ahli menggunakan teknologi web konvensional.

David Burton, Profesor fisika dari Univ. of Glasgow, kepala peneliti The Grid mengatakan bahwa teknologi ini juga memungkinkan kita berkomunikasi dalam cara yang tidak bisa dibayangkan oleh generasi yang lahir sebelum 1980 (generasi X, baby boomers dsb.)–Kalau menurut saya sih, mungkin teknologi ini tidak bisa dibayangkan oleh mereka yang belum pernah nonton Star Wars–Nevertheless, Burton memberikan gambaran kemungkinan dari teknologi ini antaranya; percakapan hologram 3D, kalau anda pernah nonton film Star Wars anda pasti inget waktu Luke Skywalker pertama kali liat hologram Princess Layla yang disimpan di memorinya R2D2, sekarang fiksi itu bisa menjadi kenyataan. Imajinasi saya membayangkan di masa depan kita benar-benar bisa berkomunikasi dengan orang lain dalam komposisi tubuh yang nyata tidak menggunakan layar lagi. Sebenarnya hologram sudah bisa dipakai saat ini, tetapi karena membutuhkan energi dan prosesor komersial saat ini dalam jumlah yang besar, sehingga harganya sangat mahal sehingga tidak banyak yang menggunakannnya.

Anda ingat bagaimana Tom Cruise berperang melawan teknologi di Minority Report, yakk! seperti itulah masa depan social network. Anda-anda blogger akan menjadi agen-agen dari komputer catatan sipil pemerintah dalam mendata profile, aktivitas bahkan mimpi warganya tadi malam. Kenapa, karena anda seperti saya! kita sama-sama suka menuliskan apa yang kita pikirkan, apa yang kita lakukan, sharing foto dan video tentang kita dan siapa-siapa kita berhubungan atau yang menarik perhatian kita. Kalau anda senang ketemu teman lama anda di facebook atau friendster seperti saya, tahan dulu, karena yang lebih senang yaitu CIA dan badan-badan intelijen negara, mereka punya lebih banyak data tentang anda daripada cuma formulir KTP.

Nah, kalau saya bicara seperti ini kok jadinya seram sekali ya, dimana privasi kita sebagai manusia? ini melanggar HAM ini! begini, saya tidak berbicara mengenai baik atau buruk mengenai sesuatu kecuali itu ada ekspresi atau perilaku. Teknologi sama seperti semua esensi di dunia materi ini adalah murni pada Idea-nya. Jadi itu tergantung manusianya, saya sih gak masalah kalau tulisan atau data situs pertemanan saya diakses badan intelijen, selama itu tidak mengganggu aktifitas saya sebagai manusia. Ignorance..?? well, probably… Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi The Grid ini bagi kesejahteraan kita sendiri. Saya membayangkan memberikan kuliah bagi mahasiswa2 di Bangkok tentang digital media misalnya, dengan bentuk hologram utuh tubuh saya, pada saat yang bersamaan mahasiswa2 saya di Unila mendapat materi yang sama, jadi mahasiswa2 di Indonesia tidak akan kalah dengan mahasiswa2 negara lainnya, US sekalipun. Ataupun, ada mahasiswa konsultasi skripsi tentang sesuatu yang saya tidak mengerti tetapi saya tahu kolega saya di Adelaide, Australia yang mengerti tentang topic itu, kolega saya bisa virtual mentoring bersama saya. Bayangkan kemungkinan lainnya! masih banyak lagi!

Dan bagi anda yang baru mempelajari web 2.0 dan ingin buat social networking site (SNS) lebih baik lupakan saja, mulailah berpikir web 4.0! konstelasi semantic web berbasis AI. Karena dalam 2 tahun kedepan sudah akan ada generasi baru dari web dengan platform yang akan mengarah pada penggunaan The Grid. Isu internal di facebook mengatakan bahwa mereka sudah bergerak ke arah itu, langkah yang sama di ikuti oleh Google yang hari ini telah memperkenalkan Google App Engine nya bagi 1000 developer, langkah awal bagi Google untuk mewujudkan mimpi OpenSocial pertengahan tahun ini…

Hari ini saya dapat oleh-oleh dari teman yang ikut Konferensi Topic Map (Jangan tanya apa itu Topic Map, butuh 2 semester buat ngejelasinnya aja!) di Oslo minggu lalu, banyak hal yang menarik salah satunya ada profesor dari harvard yang ngaku setengah gila dan tidak suka pada Dewey Decimal, what the…!! itulah orang2 dari harvard, mereka ngaku setengah gila dan ngomong tidak suka Dewey Decimal dan semua orang rela bayar buat dengerin dia, atau Henry Jenkins (dia tidak gila) dari MIT, dia ngomong participatory culture dalam convergence media seolah-oleh itu barang baru, eh sekarang semua ahli digital media ngikut pake istilah participatory, coba kalau dosen komunikasi dari Unila yang ngomong, bisa2 dimasukkin RSJ dia, karena dianggap benar2 gila! Dunia akademisi internasional tidak semurni yang saya kira sewaktu masih mahasiswa, penuh ideologi, pertarungan sejarah, dan politik ekonomi yang kental.

Terakhir, banyak bloggers yang minta dikirimin film fitna oleh saya, jawaban saya sekali lagi, saya mengikuti anjuran pemerintah Indonesia untuk tidak menyebarluaskan film ini, by any means, titik. Tidak ada gunanya bahas film ini lagi, itu gosip minggu lalu, lupakan saja, anggap gak ada. Gak ada bedanya kok ama sinetron2 yang ada hantu nya, atau film2 horor, semuanya mitos yang cuma eksis di kepala anda. Mengenai di block nya youtube, myspace, rapidshare, etc. dari indonesia menurut yang saya baca di detik.com hanya akan berlangsung 10 hari. Kalau saya sih masih mengakses semua situs tersebut dari tempat saya.

Comments (1) »